Pengamat politik LIPI, Wasisto Raharjo Jati, menilai bahwa terowongan ini harus dipahami sebagai simbol silaturahmi antarumat beragama, bukan hanya sekadar fasilitas baru.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna juga menekankan pentingnya menjaga keamanan terowongan untuk mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Mastuki HS, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta, menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral adalah simbol spiritual yang merekatkan perbedaan agama melalui pendekatan mendalam.
Terowongan ini dianggap sebagai penghubung tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hati, pikiran, dan tindakan umat beragama di Indonesia. ***