“Sampai tiba saya tamat sekolah menengah, saya mengutarakan niat saya untuk menjadi suster kepada orang tua. Awalnya agak ikhlas ga ikhlas keluarga mendengar niat saya. terlebih mama yang selalu mengingatkan saya kalau jadi suster itu tidak menikah, hidup sendiri dan lainnya. Mama takut saya tidak siap. Tapi saya berusaha meyakinkan mereka dan berjanji akan menjalani pilihan ini dengan sungguh-sungguh.”, katanya.
Akhirnya, dia mengajukan diri sebagai aspiran dan tinggal di Komunitas Suster DSY, Paroki St. Eugenius de Mazenod (Eudema), Tanjung Redeb. September 2014, bergabung menjadi postulant di Biara DSY Lotta, Manado.
“Karena Aku, Engkau Cinta”
Suster Anas, DSY memilih motto panggilan “Karena Aku, Engkau Cinta”.
Ini merupakan ungkapan refleksi perjalanan panggilannya.
Dia merasa dipangill Allah sejak awal dan Allah sendiri yang membimbingnya dalam seluruh proses hidupya.
Segala tantangan dan pergumulan hidup, menghantarkannya menjadi pribadi yang mampu untuk bertahan dalam jalan panggilan ini.
“Kalau saya mengandalkan kekuatan saya sendiri, saya tidak akan sampai pada titik ini. Tuhan begitu mencintai saya. Segala pengalaman “luka” yang saya alami, saya anggap sebagai kado manis dalam perjalanan panggilan saya. Karena Cinta Tuhan saya mampu melewati semuanya. Cinta Tuhan nyata. Saya alami dan itu menguatkan saya,” ujar Suster Anas.
Dia juga berharap bahwa Kaul Kekal ini memang suatu puncak dalam panggilannya.
Di sisi lain, masih ada banyak lagi puncak-puncak kehidupan yang harus digapai.
Suster Anas juga sangat membutuhkan dukungan dan doa dari umat, yang sedang berjuang.
“Tegur, kritik, sadarkan, dan nasihat saya jika saya salah. Bangunkan saya ketika terlambat bangun. Terangilah langkah saya,” harap Suster Anas.
Veronika menjadi Anastasia
Suster Anas, DSY lahir dengan nama Veronika Serang Sogen.
Setelah diterima dan resmi bergabung dalam komunitas para suster DSY, dia kemudian memilih nama Anastasia sebagai nama biaranya.
Berangkat dari latar belakang pengalaman pribadinya, dia melihat bahwa teladan hidup Santa Anastasia sejalan dengan apa yang dia lakoni.
Baginya keteladanan Santa Anastasia yang wafat sebagai martir karena membela imannya menjadi alasannya memilih nama Anastasia menjadi nama biara.
Bahkan dia mengaku bahwa dulu tinggal dan sekolah sebagai minoritas. Sebagai remaja, juga pernah berpacaran dengan cowok-cowok yang beda keyakinan.
“Namun, sebisa mungkin saya berusaha bertahan dengan apa yang saya imani sejak kecil. Saya harus memilih di antara kenyamanan-kenyamanan hubungan yang saya jalani,” tambahnya.