Paus Fransiskus Ajak Umat Katolik Hidupi 2 Sikap Dasar sebagai Murid Yesus

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 5 September 2024 | 19:42 WIB
Suasana Misa Suci Agung bersama Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno (GBK), Kamis petang, 5 September 2024. (Tim Media Panitia Penyambutan Paus Fransiskus 2024)
Suasana Misa Suci Agung bersama Paus Fransiskus di Gelora Bung Karno (GBK), Kamis petang, 5 September 2024. (Tim Media Panitia Penyambutan Paus Fransiskus 2024)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Paus Fransiskus mengajak umat Katolik untuk menghidupi dua sikap mendasar yang memampukan kita menjadi murid-murid Yesus: yaitu mendengarkan sabda dan menghidupi sabda.

Hal tersebut dikemukakan Paus Fransiskus dalam homili atau kotbah pada Misa Suci Agung di Gelora Bung Karno (GBK), Kamis petang, 5 September 2024.

Baca Juga: Setelah 35 Tahun, Paus Fransiskus Tiba di Indonesia: Menteri Agama Apresiasi Pesan Pentingnya

"Pertama, mendengar sabda, karena semua hal berasal dari mendengarkan, dari membuka diri kita kepada-Nya, dari menyambut anugerah berharga dari persahabatan dengan-Nya," tutur Paus.

Setelah mendengar sabda, lanjut Paus, penting untuk menghidupi sabda yang telah kita terima, bukan sekadar menjadi pendengar yang sia-sia dan menipu diri kita sendiri (Yak 1:22).

"Tidak sekadar mendengar dengan telinga tanpa membuat sabda itu masuk ke dalam hati dan mengubah cara pikir kita, cara merasa, dan bertindak. Sabda yang dianugerahkan, dan yang kita dengar, perlu dijalankan untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik," katanya.

Injil, kata Paus Fransiskus, memberitahu kita bahwa hati manusia selalu mencari kebenaran yang dapat memenuhi dan memuaskan hasratnya akan kebahagiaan; yang tidak dapat memuaskan kita hanya oleh sabda manusia, dan oleh nilai-nilai duniawi.

Baca Juga: Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia Sebagai Tanda Cinta Toleransi Agama

"Kita selalu membutuhkan sebuah terang yang datang dari atas untuk menyinari langkah-langkah kita; akan air kehidupan yang memuaskan dahaga padang gurun jiwa, akan sebuah penghiburan yang tidak mengecewakan karena ia berasal dari surga dan bukan dari hal-hal fana dunia ini," ucap Paus.

Paus mengingatkan bahwa di tengah kekacauan dan kefanaan kata-kata manusia, ada kebutuhan akan sabda Allah, satu- satunya kompas bagi perjalanan kita, yang di tengah begitu banyaknya luka dan kehilangan, mampu menuntun kita menuju arti kehidupan sejati.

Sabda Yesus yang Menyelamatkan
Lebih dalam Paus Fransiskus mengatakan bahwa tugas pertama seorang murid bukanlah mengenakan jubah kerohanian yang sempurna secara luar, atau melakukan hal-hal luar biasa atau usaha-usaha besar.

Sebaliknya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mendengar satu-satunya sabda yang menyelamatkan, yaitu sabda Yesus. Hidup iman kita berawal ketika kita menerima Yesus dengan rendah hati di atas perahu kehidupan kita, menyediakan ruang untuk-Nya, dan menempatkan diri dalam mendengarkan sabda-Nya dan dari situ kita berefleksi, diguncangkan, dan berubah.

Baca Juga: LIONEL, ANAK PELUKIS WAJAH PAUS FRANSISKUS: KEAJAIBAN BISA TERJADI KAPAN SAJA

Pada saat yang sama, sabda Tuhan menuntut untuk berinkarnasi secara nyata dalam diri kita: oleh karena itu, kita dipanggil untuk menghidupi sabda. Sabda Tuhan tidak hanya tetap tinggal sebagai gagasan abstrak yang indah atau hanya membangkitkan emosi sesaat.

Sabda Tuhan, sambung Paus, menuntut perubahan cara pandang kita, membiarkan kita mengubah hati menjadi hati Kristus. Ia memanggil kita untuk berani menebarkan jala Injil ke lautan dunia, meski selalu akan ada kesulitan-kesulitan saat menebarkan jala Injil tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X