Pandangan Uskup Pertama Pontianak, Mgr. Pasifikus Bos OFMCap pada Borneo (Serial 2)

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 20 Agustus 2024 | 13:22 WIB
Mgr. Pasifikus Bos OFMCap dalam Arsip Kapusin Pontianak
Mgr. Pasifikus Bos OFMCap dalam Arsip Kapusin Pontianak

PONTIANAKGLOBE.COM| Pontianak, Selasa 20 Agustus 2024 - Suku Dayak adalah penduduk asli Kalimantan. Sebagai sebuah kelompok etnis, jumlah mereka sekitar 50 persen dari total populasi sekitar tahun 1905.

Menurut perkiraan, jumlah mereka sekitar satu setengah hingga dua juta orang, terbagi dalam beberapa subsuku, masing-masing dengan bahasanya sendiri.

Agama mereka adalah animisme. Mereka sebagian besar tinggal di pedalaman Kalimantan.

Menurut Pacificus Bos, orang-orang Dayak yang lebih tua khususnya “tidak mau berpindah agama”. Oleh karena itu, misi harus memperhatikan kaum muda Dayak.

Mendirikan sekolah rakyat (volksschooltjes), dengan atau tanpa asrama, adalah cara terbaik untuk menjangkau kaum muda.

Hal ini dimulai oleh Eugenius van Disseldorp, Camillus Buil dan Theodoricus van Lanen di Sejiram pada tahun 1906/1907.

Mereka membangun sebuah gereja baru dan sebuah sekolah kecil, yang dimulai pada tanggal 1 Juli 1907 dengan tujuh belas murid.

Setelah awal yang sangat sulit, Sejiram mengalami kemajuan pesat pada tahun 1920-an, sebagian berkat hasil dari kebun karetnya sendiri, menjadi sebuah stasi model dengan fungsi sentral untuk seluruh kawasan Hulu Kapuas.

Pada 28 November 1906, gelombang kedua yang terdiri dari enam kapusin dari Belanda tiba di Singkawang bersama lima suster Fransiskanes dari Veghel (sekarang disebut SFIC).

Keenam saudara kapusin tersebut adalah Bruder Leopold Schellekens dari Riel, Pater Gonzalvus Buil dari Pannerden, Pater Liberatus Cluts dari Exel, Pater Marcellus Winnemuller dari Dodewaard, Pater Marius Zom dari Zevenbergen dan Bruder Ivo van Schijndel dari Volkel.

Prefek Bos memilih Liberatus sebagai pemimpin misi Borneo-Timur ditemani oleh Pater Camillus dan Bruder Ivo.

Arsip Kapusin Pontianak (2024)
Arsip Kapusin Pontianak (2024)

Dua Prefektur Mandiri

Hampir enam setengah tahun setelah provinsi kapusin Belanda di Borneo ditugaskan sebagai wilayah misi, tanggung jawab atas Sumatera juga diberikan.  

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X