Sang Dokter (3): Di Puskesmas PTT

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 13 Desember 2022 | 11:44 WIB
Ilustrasi Dokter (pixabay)
Ilustrasi Dokter (pixabay)

Cahaya kemerahan memancar di ufuk timur.

Gelombang taburan bunga dari keempat penjuru angin serempak menuju ke padaku.

Alam berbisik lembut, “Anakku, gelombang  bunga-bunga itu mengiringi  kedatangan keempat saudaramu. Air kawah  dari timur, darah dari selatan,  ari-ari dari barat, dan  tali pusar dari utara”.

BACA JUGA: Twitter akan Meningkatkan Karakter Twit dari 280 Menjadi 4.000 Karakter. Netizen: Ini Kesalahan Besar

“Tiga puluh tahun engkau menjalani laku ziarah hidup di alam fana. Kini, mereka kembali menyatu denganmu. Bersama mereka engkau  mulai mengarungi alam keabadian yang tanpa batas. Ada terang tetapi tidak ada bayangan. Engkau dapat mendengar suara tetapi tidak dapat melihat dirimu sendiri. Yang ada hanyalah hening dan damai,”  Bisikan itu semakin lirih dan akhirnya lenyap sama sekali.

....

Dalam keheningan, kembali  muncul bianglala tujuh warna membentang di batas cakrawala. Kutapaki anak tangga bianglala satu per satu sambil menyibak rerimbunan  sulur-sulur bunga Air Mata Ibu.

Tiba-tiba kakiku telah menjejak   hamparan tepian pantai Tanjung Batu.

Nyanyian “Nyiur Hijau”  menggema,   menyusup  relung-relung mega stratus-nimbus yang berarak mengarungi angkasa jagad raya..

BACA JUGA: Rumah 304 Warga di Papua Tengah Tersambung Listrik. ESDM Sebut Melampaui Target, Mestinya Berapa Ya?

Aku kembali ke Puskemas PTT enam tahun yang lalu.

Pada  layar plasma langit muncul tayangan rekaman jejak hidupku dari hari ke hari, sebagai dokter perempuan yang masih muda belia  di antara masyarakat pulau-pulau terluar dan terpencil.

Selama tiga tahun aku tinggal di sebuah rumah kayu 6x6 m2 berbentuk panggung.

Tiap malam tidurku ditemani nyanyian alam, dengkungan kodok yang bersahutan dari kolong rumah.

Rumah ini terbuka selama  24 jam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X