pontianak-insights

Waspada Chikungunya: Kenali Gejalanya, Lindungi Keluarga Anda

Senin, 13 Juli 2026 | 23:28 WIB
Bidang Kesehatan, Pemberdayaan Disabilitas dan Keluarga Sejahtera, Pemuda Katolik Kota Pontianak, dr. Albert Edo Rahmadi, CNIH.M.Sc. (Wilhelmus Triputra)
  • Lakukan gerakan 3M Plus: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah penyimpanan air, dan Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan
  • Pastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah (pot bunga, ban bekas, talang air, dan sebagainya) karena menjadi tempat berkembang biak nyamuk
  • Gunakan kelambu atau kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela rumah
  • Ikuti program fogging atau pengasapan yang diadakan petugas kesehatan setempat, terutama saat terjadi peningkatan kasus di lingkungan sekitar

Perlindungan diri:

  • Gunakan losion atau semprotan anti-nyamuk pada kulit yang terbuka, terutama saat pagi dan sore hari
  • Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, terutama bila berada di area rawan nyamuk
  • Pasang obat nyamuk atau alat elektrik anti-nyamuk di dalam ruanga

Pengobatan

Sampai saat ini belum ada obat khusus yang dapat membunuh virus chikungunya secara langsung. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, yaitu untuk meredakan gejala dan membantu tubuh pulih dengan sendirinya. Langkah-langkah penanganan yang umum dianjurkan meliputi:

  • Istirahat yang cukup agar tubuh punya waktu untuk melawan infeksi
  • Minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi, terutama saat demam
  • Obat penurun panas dan pereda nyeri sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan, untuk meredakan demam dan nyeri sendi
  • Kompres hangat atau dingin pada sendi yang nyeri, sesuai kenyamanan penderita
  • Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat bila demam tidak kunjung membaik, nyeri sendi semakin berat, atau muncul tanda bahaya lain seperti perdarahan, sesak napas, atau penurunan kesadaran

Perlu digarisbawahi: penderita tidak dianjurkan mengonsumsi obat sembarangan, terutama golongan aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sebelum dipastikan bukan demam berdarah, karena kedua penyakit ini sering menunjukkan gejala yang mirip dan penanganannya bisa berbeda. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk memastikan diagnosis yang tepat, biasanya melalui pemeriksaan darah di laboratorium.

Kabar baiknya, sebagian besar penderita chikungunya dapat pulih sepenuhnya. Selain itu, orang yang pernah terinfeksi chikungunya umumnya memiliki kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

Catatan untuk Pemerintah Kota Pontianak

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, hingga Mei tahun 2026 tercatat total 970 kasus infeksi dengue di 14 kabupaten/kota se-Kalbar, dengan Kota Pontianak menyumbang 68 kasus. Sementara itu, RSUD dr. Soedarso Pontianak — sebagai rumah sakit rujukan utama — juga mencatat kasus suspek dengue sebagai penyakit berpotensi wabah dengan jumlah terbanyak sepanjang 2026, dengan mayoritas pasien adalah anak-anak.

“Data ini penting karena nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab tingginya kasus DBD di Kota Pontianak adalah vektor yang sama dengan penular chikungunya. Artinya, wilayah dengan kepadatan populasi nyamuk Aedes yang tinggi — seperti yang terjadi di Pontianak akibat curah hujan tinggi dan genangan air — juga berisiko menjadi lokasi penularan chikungunya, meski kasus yang terdeteksi selama ini didominasi oleh DBD,” kata Albert.

Beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan Pemerintah Kota Pontianak:

  • Perluas surveilans berbasis gejala klinis, bukan hanya DBD. Tenaga kesehatan di puskesmas dan RSUD dr. Soedarso perlu dibekali kemampuan membedakan gejala chikungunya dan DBD, mengingat keduanya kerap tertukar pada tahap awal
  • Aktifkan kembali Pokjanal DBD hingga tingkat RT/RW dengan cakupan yang diperluas mencakup kewaspadaan chikungunya, mengingat kedua penyakit ini berbagi vektor dan strategi pencegahan yang sama (3M Plus)
  • Prioritaskan wilayah rawan genangan air, khususnya kawasan padat penduduk dan area yang kerap terdampak banjir atau curah hujan tinggi di Kota Pontianak, untuk kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan fogging terarah
  • Gencarkan edukasi publik, khususnya kepada orang tua dan sekolah, mengingat anak-anak tercatat sebagai kelompok pasien terbanyak dalam kasus penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes di Kota Pontianak sepanjang 2026
  • Koordinasi lintas sektor antara Dinas Kesehatan Kota Pontianak, kecamatan, kelurahan, dan fasilitas kesehatan untuk memastikan pelaporan kasus chikungunya tercatat terpisah dari DBD, sehingga data epidemiologi kota lebih akurat untuk pengambilan kebijakan

Imbauan

Masyarakat diimbau untuk tidak menganggap remeh gejala demam disertai nyeri sendi, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat bila mengalami gejala tersebut. Kewaspadaan dan kebersihan lingkungan yang dilakukan bersama-sama menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran chikungunya di masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini