PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Menyambut perayaan agung Tahun Yubileum 800 Tahun Santo Fransiskus Assisi (1226-2026), Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) menggelar seminar ilmiah-spiritual bertajuk “Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat St. Fransiskus Assisi” pada Senin, 29 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat di Aula Gedung Fransiskus Assisi Kampus UWDP ini menghadirkan narasumber Mgr Dr Samuel Oton Sidin OFM Cap (Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak) dipandu oleh moderator P Dr Paulus Toni Tantiono OFM Cap.
Seminar ini dihadiri oleh ratusan peserta yang memadati aula, mulai dari jajaran dosen, tenaga kependidikan (tendik), utusan mahasiswa UWDP, rekan-rekan dosen dari Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKATN) Pontianak, hingga para biarawan dan biarawati dari berbagai tarekat di sekitar Kota Pontianak.
Di penghujung pemaparannya yang bernas, Mgr. Samuel menitipkan pesan penutup yang menggetarkan nurani: “Menerima semua orang sebagai saudara, terlebih mereka yang paling membutuhkan, menghargai martabat manusia. Sehina apa pun seseorang, semiskin apa pun seseorang, dia tetap manusia, harus dihargai, bukan karena status sosialnya, tetapi karena dia manusia.”
Satu seruan dari 60 menit pemaparan ini seketika mengguncang ruang seminar dan membawa kita langsung ke jantung spiritualitas Fransiskan. Meskipun pesan beliau disampaikan dalam konteks umum kepedulian sosial kemanusiaan, bagi saya, kalimat tersebut memantik sebuah refleksi teologis yang jauh masuk ke dalam dunia pendidikan tinggi kita saat ini.
Delapan abad lalu, Fransiskus, seorang anak saudagar kaya yang bergelimang privilese, memilih berbalik arah.
Ia menanggalkan jubah kemewahannya, memeluk kemiskinan, dan menjadikan kaum marginal sebagai saudara seperjalanan. Bagi institusi pendidikan Katolik yang bernafaskan spiritualitas Fransiskan, seperti UWDP yang bernaung di bawah panji Ordo Kapusin, teladan sang pelindung tentu bukan sekadar ornamen sejarah. Ia adalah kompas moral.
Pertanyaannya: di era modern ini, siapakah “si miskin” yang sedang mengetuk pintu gerbang kampus kita?
Kisah di Balik Saringan Ketat
Ingatan saya mundur ke sebuah peristiwa lima tahun lalu. Universitas kami dikunjungi oleh seorang asesor akreditasi dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama.
Dengan nada bangga, ia membandingkan sistem saringan di kampusnya yang super ketat, di mana hanya segelintir anak pilihan nasional yang bisa menembus gerbangnya, sementara sisanya ditolak dan terbuang. Sejenak, narasi eksklusivitas itu terdengar mentereng.
Namun, ada kerapuhan nilai yang mendalam dari kebanggaan tersebut. Ketika universitas-universitas besar, terutama yang dibiayai oleh uang pajak rakyat, hanya mau menerima anak-anak yang sejak lahir sudah beruntung mendapatkan fasilitas terbaik, bimbingan belajar mahal, dan gizi yang cukup, mereka sebenarnya sedang memperlebar ketimpangan sosial.
Anak-anak dari daerah pelosok, dengan histori nilai rapor yang berada di bawah garis “kemiskinan akademik” akibat keterbatasan fasilitas sekolah mereka di masa lalu, seketika kehilangan hak atas eskalator sosial bernama pendidikan tinggi.
Di sinilah makna “kemiskinan” dalam spiritualitas Fransiskan menemukan perluasan maknanya yang paling relevan.