PONTIANAKGLOBE.COM, Pontianak -- Ketika seseorang datang ke fasilitas kesehatan, yang dihadapinya bukan hanya tenaga medis yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu, dia berharap bertemu dengan pribadi yang mampu mendengar, memahami, dan memperlakukannya sebagai manusia yang utuh.
Pandangan itulah yang menurut Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Bdn. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.SiT., M.Kes, menjadi alasan mengapa filsafat tetap relevan dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya pendidikan kesehatan.
Menurut Agnes, filsafat tidak pernah jauh dari kehidupan tenaga kesehatan karena inti dari profesi kesehatan adalah manusia itu sendiri. Di balik setiap tindakan medis, terdapat pertimbangan tentang martabat manusia, tanggung jawab moral, dan kepedulian terhadap sesama.
Pemikiran tersebut akan menjadi salah satu perspektif yang hadir dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang akan digelar Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada Jumat (26/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak itu menghadirkan dua akademisi filsafat terkemuka, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen STF Driyarkara Jakarta.
Bagi Agnes, tema tersebut menjadi semakin penting ketika dunia pendidikan kesehatan saat ini berada di tengah perubahan besar. Kemajuan teknologi kesehatan berlangsung sangat cepat. Sistem digital, kecerdasan buatan, hingga berbagai inovasi pelayanan kesehatan terus berkembang dan mengubah wajah profesi kesehatan.
Namun di tengah perubahan tersebut, dia mengingatkan bahwa pendidikan kesehatan tidak boleh kehilangan fokus utamanya, yaitu membentuk tenaga kesehatan yang memiliki kepedulian terhadap manusia.
“Filsafat itu penting, karena bagaimanapun filsafat berbicara dan dekat dengan kemanusiaan hingga konteks manusia dan kesehatan, kemudian kesehatan dan masyarakat,” ujarnya (25/06).
Menurut Agnes, mahasiswa kesehatan selama masa studinya memang dituntut menguasai berbagai kompetensi akademik dan keterampilan klinis. Mereka belajar memahami tubuh manusia, penyakit, diagnosis, terapi, hingga berbagai prosedur pelayanan kesehatan.
Akan tetapi, kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menjawab seluruh persoalan yang dihadapi di lapangan.
Dalam praktik pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan sering berhadapan dengan situasi yang menuntut kepekaan moral dan kemampuan mengambil keputusan yang bijaksana.
Mereka harus memahami perasaan pasien, menghormati hak-hak individu, serta mempertimbangkan berbagai aspek kemanusiaan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan semata.
Karena itu, Agnes melihat filsafat sebagai sarana yang membantu mahasiswa mengembangkan cara berpikir yang lebih reflektif dan mendalam.
Dia menilai bahwa pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan tanggung jawab sosial.