pontianak-insights

Mengapa Filsafat Masih Penting bagi Generasi Profesional?

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:43 WIB
Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. (2026) Panelis Workshop.

PONTIANAKGLOBE.COM, Pontianak --  Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, pertanyaan tentang relevansi filsafat dalam pendidikan tinggi kerap muncul.

Bagi sebagian orang, filsafat dianggap terlalu teoritis dan jauh dari kebutuhan industri. Namun pandangan berbeda justru disampaikan Stanislaus, S.E., M.Pd., Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa (AKUB GAK) Pontianak.

Menurutnya, filsafat tetap memiliki tempat yang penting dalam dunia pendidikan tinggi, termasuk bagi mahasiswa yang kelak akan berkarier di sektor keuangan dan perbankan.

Pandangan tersebut akan menjadi salah satu perspektif yang hadir dalam Workshop Humaniora bertema “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang diselenggarakan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin), Jumat (26/6/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak itu menghadirkan dua pembicara utama, yakni Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP, Uskup Keuskupan Sanggau, dan Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo, SJ, dosen filsafat STF Driyarkara Jakarta. Keduanya akan membahas posisi filsafat dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di era perubahan yang semakin cepat.

Sebagai panelis yang berasal dari dunia pendidikan keuangan dan perbankan, Stanislaus melihat tema seminar tersebut sangat dekat dengan realitas yang dihadapi kampus-kampus saat ini.

Menurutnya, perguruan tinggi sering kali dihadapkan pada tuntutan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, menguasai teknologi, dan mampu bersaing di pasar global.

Namun di balik tuntutan tersebut, terdapat kebutuhan lain yang tidak kalah penting, yakni membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, dan kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana.

“Perbankan saat ini tidak hanya membutuhkan tenaga profesional yang menguasai aspek teknis. Dunia kerja membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, memiliki integritas moral, dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil,” ujar Stanislaus.

Menurutnya, filsafat berkontribusi dalam membangun kemampuan tersebut. Melalui filsafat, mahasiswa diajak untuk mempertanyakan asumsi, memahami konsekuensi dari suatu tindakan, serta mempertimbangkan dimensi etis di balik setiap keputusan.

Dalam dunia perbankan, kemampuan semacam itu memiliki nilai yang sangat penting. Sebab setiap kebijakan yang diambil tidak hanya berdampak pada lembaga keuangan, tetapi juga pada masyarakat luas.

Stanislaus mencontohkan bahwa keputusan pemberian kredit tidak sekadar berkaitan dengan hitungan keuntungan dan risiko bisnis. Di dalamnya terdapat pertimbangan mengenai kemampuan debitur, dampak sosial pembiayaan, dan keberlanjutan usaha yang didukung.

“Karena itu seorang bankir perlu memiliki cara berpikir yang rasional sekaligus reflektif. Filsafat membantu membentuk kemampuan tersebut,” katanya.

Dia juga menyoroti berbagai tantangan baru yang muncul akibat perkembangan teknologi. Kehadiran Artificial Intelligence (AI), fintech, cryptocurrency, dan berbagai inovasi digital telah mengubah cara industri keuangan beroperasi.

Halaman:

Tags

Terkini