Karena tendanya tidak lagi dapat digunakan, Hilario terpaksa tidur di kursi panjang dengan alas matras. Namun pengalaman itu justru disikapinya dengan penuh rasa syukur.
"Saya bersyukur pernah mengalami ini. Saya bisa merasakan langsung dampak banjir akibat curah hujan yang tinggi," ujarnya sambil tertawa dan mengabadikan momen tersebut melalui foto dan video.
Selain disiplin dalam perjalanan, Hilario juga sangat memperhatikan kebugaran fisiknya.
Ia rutin berolahraga sebelum tidur maupun setelah bangun tidur, serta menjaga pola makan secara teratur.
Ia hanya mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan tubuhnya dan selalu menghormati barang milik orang lain.
Buah-buahan atau makanan yang tersedia di lemari pendingin tidak pernah disentuhnya tanpa izin atau tawaran dari pemilik rumah.
Ketika ditawari teh atau kopi, Hilario sering memilih untuk meraciknya sendiri. Dengan penuh semangat ia kerap berseru, "Cappuccino!" sambil tertawa.
Kedisiplinan juga tampak dalam pengelolaan waktunya.
Mulai dari jam tidur, bangun pagi, sarapan, bekerja, hingga bertemu kolega, semuanya dijalani sesuai jadwal yang telah ditetapkannya.
Saat sedang bekerja menggunakan laptop kecil miliknya, ia tidak segan menolak panggilan telepon yang dianggap dapat mengganggu konsentrasinya.
"Maaf, saya sedang bekerja. Nanti saya telepon kembali," begitu kalimat yang sering diucapkannya.
Menjelang keberangkatan, anggota komunitas FRKP kembali dibuat kagum.
Ruang tamu yang selama hampir dua pekan digunakannya tampak bersih dan rapi.
Ternyata sejak pagi Hilario telah membersihkan seluruh area yang ditempatinya, termasuk membereskan sampah dan perlengkapan pribadinya.