PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Sebuah kalimat terdengar saat peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII berkunjung ke Rumah Hakka Kalimantan Barat.
"Si kai sa fui chon bo nyit."
Baca Juga: Apa Itu Bepapas? Tradisi Penyambutan Tamu dalam Budaya Melayu Kalimantan Barat
Kalimat tersebut berarti "Hari Komunikasi Sosial Sedunia" dalam bahasa Hakka.
Bagi sebagian peserta, itu mungkin hanya sebuah pengenalan bahasa.
Namun bagi komunitas Hakka di Kalimantan Barat, bahasa merupakan bagian penting dari identitas yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Bahasa Hakka merupakan salah satu dialek Tionghoa yang dibawa oleh para perantau Hakka ketika datang ke Nusantara.
Di Kalimantan Barat, komunitas Hakka telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ratusan tahun.
Meski hidup berdampingan dengan berbagai kelompok etnis lain dan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, banyak keluarga Hakka masih mempertahankan penggunaan bahasa leluhur mereka di lingkungan keluarga maupun komunitas.
Baca Juga: Dayak, Melayu, dan Hakka: Pelajaran Harmoni dari Kalimantan Barat
Di Rumah Hakka Pontianak, bahasa tersebut masih diperkenalkan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan budaya dan sosial.
Dewan Pengawas Perkumpulan Hakka Kalimantan Barat, Antonius Kadir, mengatakan pelestarian bahasa menjadi salah satu cara menjaga identitas komunitas.
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi.
Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai-nilai, serta cara pandang sebuah masyarakat terhadap kehidupan.
Ketika sebuah bahasa perlahan ditinggalkan, sebagian dari memori kolektif sebuah komunitas juga ikut menghilang.