PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di tengah budaya modern yang serba cepat, masyarakat Melayu Kalimantan Barat masih mempertahankan sebuah tradisi yang mengandung pelajaran penting tentang kebersamaan dan penyelesaian persoalan: saprahan.
Tradisi ini diperkenalkan kepada peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII saat berkunjung ke Rumah Melayu di Pontianak, Jumat, 29 Mei 2026.
Baca Juga: Bahasa Hakka Masih Bergema di Pontianak
Sekilas, saprahan tampak seperti kegiatan makan bersama.
Hidangan disajikan dalam satu nampan besar dan dinikmati oleh beberapa orang yang duduk melingkar.
Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan filosofi yang telah diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Melayu.
Ketua Departemen Pendidikan dan Kepelatihan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat, M. Rustam, menjelaskan bahwa saprahan bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan bagian dari budaya bermusyawarah.
Baca Juga: Apa Itu Bepapas? Tradisi Penyambutan Tamu dalam Budaya Melayu Kalimantan Barat
Dalam praktiknya, masyarakat kerap menggunakan suasana makan bersama untuk membicarakan berbagai persoalan, mulai dari urusan keluarga hingga persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.
“Ketika suasana hati tenang dan kebersamaan terjalin, maka persoalan akan lebih mudah diselesaikan dengan musyawarah,” kata Rustam.
Filosofi tersebut lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang setara ketika duduk bersama.
Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara satu dengan yang lain.
Baca Juga: Dayak, Melayu, dan Hakka: Pelajaran Harmoni dari Kalimantan Barat
Tradisi ini juga mengajarkan penghormatan kepada sesama.
Orang-orang berbagi makanan dari wadah yang sama, menjaga tata krama, dan mendahulukan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi.