pontianak-insights

Nikmati Keragaman Budaya, Peserta PKSN XIII Sambangi Komunitas Etnis di Pontianak

Sabtu, 30 Mei 2026 | 00:06 WIB
Peserta PKSN XIII mengunjungi Rumah Hakka, bagian dari komunitas Tionghoa di Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). (Komsos KAP)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Ratusan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII menyelami keberagaman budaya Kalimantan lewat kunjungan dan interaksi bersama komunitas tiga etnis di Kota Pontianak, Jumat (29/05/2026). Tiga etnis itu, Dayak, Melayu, dan Hakka sebagai representasi keharmonisan hidup berdampingan di Pulau Kalimantan.

Di hari keempat PKSN ini, delegasi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan se-Indonesia beranjangsana ke komunitas Dayak di Rumah Betang, Melayu di Kampung Caping dan Rumah Melayu, serta etnis Tionghoa di Rumah Hakka.

Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, menyebut, kunjungan ke rumah budaya tiga etnis sebagai cara melihat “wajah dan suara lokal” yang berbalut nilai persaudaraan.

“Dari kunjungan ini, kami berharap para pegiat komsos dari berbagai keuskupan di Indonesia, melihat dan merasakan langsung esensi wajah dan suara lokal melalui pendekatan kultural,” kata Paulus Mashuri.

Keuskupan Agung Pontianak “ketiban sampur” sebagai penyelenggara PKSN XIII, rentang Selasa (26/05/2026) hingga Minggu (31/05/2026). Hari-hari sebelumnya peserta mendapat pencerahan mengenai pesan Paus Leo XIV dalam merespon perkembangan teknologi komunikasi lewat seminar yang ditindaklanjuti sejumlah workshop.

Kehangatan Menyambut di Rumah Budaya

Sambutan hangat dari komunitas etnis sangat terasa, saat rombongan tiba di setiap komunitas. Mereka menyambut, di antaranya dengan tarian tradisional, ritual adat, camilan khas, dan dialog interaktif.

Kampung Caping merupakan kawasan wisata berbasis budaya Melayu, berada di pinggir sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas di Kota Pontianak. Sebuah rumah panggung berarsitektur khas Melayu kuno berdiri megah berbahan kayu ulin.

Rumah yang jadi cagar budaya ini hasil revitalisasi Pemerintah Kota dari rumah warga yang berdiri sejak 1918. Bernama Kampung Caping karena di tempat itu berkembang pengrajin caping, sejenis topi petani berbentuk kerucut dari bahan daun.

Sinta Devianti, pendamping masyarakat Kampung Caping, menjelaskan, rumah ini menjadi ruang edukasi dengan kearifan lokal. Mengembangkan seni tradisi, kerajinan khas, perpustakaan kampung, hingga kampanye mengurangi penggunaan plastik.

Makanan ringan yang disajikan kepada rombongan dikemas dengan daun pisang. Disajikan dengan nampan yang dibuat dari bahan bambu dan rotan.

Artis senior yang menyertai kunjungan, Lisa A. Riyanto, mengatakan, kunjungan ke rumah-rumah tradisional menjadi kesempatan memahami cara masyarakat mempertahankan budaya dan tradisi. Terlebih kaum ibu diberdayakan untuk usaha berbasis kreativitas setempat.

“Kerajinan lokal memiliki nilai budaya dan ekonomi yang besar. Awalnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, berkembang menjadi produk unggulan bahkan mampu menembus ekspor,” tutur Lisa.

Nilai Kehidupan Komunal

Di Rumah Hakka Kalimantan Barat, sebagai representasi sebagian etnis Tionghoa, rombongan disambut sejumlah pengurus Perkumpulan Hakka. Dewan Pengawas, Antonius Kadir, memperkenalkan kalimat “hari komunikasi sosial sedunia” dalam bahasa Hakka, yakni “si kai sa fui chon bo nyit”.

Halaman:

Tags

Terkini