Di dalam diriku, sesuatu akhirnya berubah. Bukan hilang. Bukan selesai. Hanya dilepaskan.
Aku tersenyum kecil. Kurasakan pelupuk mataku basah dan panas.
Ia adalah kunang-kunang, cahaya kecil yang tak bisa dimiliki. Dan aku, masih seekor tonggeret, suara yang terus hidup, bahkan ketika dunia enggan mendengar.
Memang, aku hanyalah kunang-kunang luka,
Takdirku adalah terbang dari senja ke senja,
Mengingat kisah ini sampai ke akhir hayat (2)
Dan puisi? Adalah malam panjang yang mempertemukan kami, hanya untuk mengajarkan hal sederhana: melepaskan.&
Yogya-Bumi Senentang, 2019-2026
Tentang Penulis:
Willy Wedhanta (Willibrordus W.), lahir di Entuma, 19 Maret 1975. Menulis cerpen, puisi, dan jurnalisme sejak di SMA Seminari St Paulus Nyarumkop-Singkawang hingga studi di STFT Widya Sasana Malang. Karyanya tersebar di berbagai media dan antologi, terbaru RESONA Track #3: Jejak Rasa yang Tak Selesai (Prince Publishing, 2026). Menetap di Lengkong Bindu, Sintang, Kalimantan Barat.