pontianak-insights

Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

Hujan makin deras. Jalanan berkilau oleh lampu dan air.

Aku membuka telapak tanganku perlahan. Kunang-kunang itu diam sejenak. Lalu terbang, naik, berputar, dan lenyap di antara cahaya kota.

Ada ruang kosong di tanganku sekarang. Tapi, anehnya, tidak terasa kehilangan.

Aku menarik napas panjang. Suara tonggeret masih ada. Tapi kini tidak lagi seperti ratapan. Lebih seperti irama yang tak perlu dimengerti untuk dimaklumi.

Kami termangu di trotoar itu. Saksofon masih terdengar di kejauhan. Hujan makin deras.

“Puisi tidak pernah tinggal dalam gelas,” katanya.

Aku menangguk.

“Dan tonggeret?”

Ia tersenyum.

“Tidak pernah berhenti bersuara.”

Aku tertawa kecil. Kali ini tanpa beban.

“Berarti aku harus terus menulis.”

“Bukan harus,” katanya. “Kalau kamu berhenti, kamu akan lenyap.”

Aku seperti tengah mendengar kuliah filsafat.

Hotel tempatku menginap sudah terlihat menaranya. Kami pun berpisah di perempatan rel. tanpa janji, tanpa rencana bertemu lagi. Seperti dua puisi yang pernah berada di halaman sastra yang sama, lalu dicetak di buku yang berbeda. Di kepalaku, tonggeret masih berdengung. Di suatu tempat yang tak perlu kuketahui di mana, kunang-kunang masih berpendar.

Halaman:

Tags

Terkini