Di sebuah gang kecil, seekor kunang-kunang melintas. Ia menangkapnya dengan cekatan, lalu menahannya di antara kedua telapak tangannya.
“Lihat,” katanya, “cahaya kecil pun bisa tersesat.”
Ia membuka sedikit genggamannya. Cahaya itu berkelip pelan.
“Tapi kita selalu punya pilihan,” lanjutnya, “menyimpannya… atau membiarkannya pergi.”
Ia menyodorkan tangannya padaku. Aku ragu sejenak, lalu menerimanya. Kunang-kunang itu berpindah ke genggamanku, hangat, hidup, walau rapuh.
Di kejauhan, tonggeret masih bersuara. Tidak merdu, tetapi setia.
“Aku tidak pandai melepaskan,” kataku pelan. Dalam benakku, sebetulnya aku ingin mengatakan merelakan.
Lelaki itu menatapku.
“Kamu bisa,” katanya. “Hanya saja kamu belum pernah mencoba.”
Aku menghela napas.
“Kalau dilepas… apa lagi yang tersisa?”
Ia menatapku lebih lama dari sebelumnya.
“Kamu.”
Aku tidak siap mendengar pernyataan itu.
Aku justru mengingat betapa negeri asal kami semakin terluka. Hutan ditumbangkan untuk diambil kayunya, untuk perluasan izin perusahaan perkebunan, untuk pertambangan, sementara warga lokal hanya menjadi penonton. Jika lahan mereka dihancurkan, ke mana lagi mereka akan hidup?