“Karena diamnya.”
Aku mencuri-curi pandang. Aku merasa jengah, salah tingkah terus-menerus bersitatap dengannya.
“Ada seseorang,” lanjutnya. “Dia tidak suka puisi. Tapi dia tahu kapan harus berhenti berbicara.”
Aku terkekeh kecil.
“Aku tidak punya bakat itu.”
“Iya,” katanya, datar, tanpa nada menghibur.
Ada jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya.
“Aku akan menikahinya,” katanya kemudian.
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa dramatisasi.
Sesaat, aku merasa seperti kunang-kunang di dalam gelas; cahaya kecil yang berdenyut di ruang sempit.
“Oh,” kataku.
“Selamat.”
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri; terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya retak.
Ia mengangguk. Tidak ada perayaan dalam wajahnya. Hanya kepastian yang sederhana.
Kami meninggalkan angkringan. Draft buku puisiku tetap tersimpan dalam tas. Niat meminta pengantar darinya lenyap begitu saja, seperti sesuatu yang tiba-tiba tidak penting lagi.