pontianak-insights

Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

Ia mengangkat bahu.

“Bedanya menentukan.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Karena aku tahu, akulah yang terlalu lama mengurung sesuatu, bukan cahaya, tapi perasaan yang tak pernah menemukan bahasanya.

***

Aku mengenalnya dari puisi. Dulu aku hanya pembaca: larut dalam baris-barisnya yang penuh malam, sungai, dan kesunyian yang tidak dibuat-buat. Puisinya tidak berusaha indah, ia hanya jujur. Aku memberanikan diri mengirim tulisan; puisi tentang tonggeret, tentang suara yang tetap ada meski diabaikan.

Balasannya singkat, tapi membuat kesal.

Tonggeret tidak pernah ragu untuk bersuara. Kenapa puisimu masih ragu untuk jujur?

Aku tersinggung. Tapi kalimat itu terus bermain di kepalaku. Sejak itu aku menulis ulang diriku, lebih jujur, lebih berani, meski sering terasa lebih sepi.

“Masih menulis?” tanyanya.

“Masih.”

“Masih tentang tonggeret?”

Aku mengangguk.

Ia tertawa pelan.

“Kamu tidak berubah.”

“Kamu juga. Masih tentang kunang-kunang.”

Halaman:

Tags

Terkini