pontianak-insights

Kunang-kunang, Tonggeret, dan Puisi

Jumat, 1 Mei 2026 | 13:24 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @erik karits)

 

Cerpen: Willy Wedhanta

Ex nocte consilium (1) – Pepatah Latin

Malioboro malam itu berdenyut seperti dada yang terlalu lama memendam sesuatu. Lampu-lampur berpendar, suara bersilang, manusia mengalir seperti arus yang tak pernah tiba di tujuan. Tetapi di balik semua itu, ada sunyi yang menyusup dan keras kepala.

Aku duduk di bangku kayu angkringan, di bawah bohlam redup yang menggantung rendah. Meja di hadapanku lengket oleh sisa kopi dan arang sate. Dari sela riuh kendaraan dan percakapan, aku mendengar suara yang lama tak singgah di telingaku.

Tonggeret.

Getarnya panjang, berulang, seperti sesuatu yang menolak usai. Bunyi itu tidak indah, tapi jujur. Ia tidak minta didengar, tapi tetap hadir.

Di seberangku, lelaki itu memagang gelas kecil. Rambutnya masih gondrong, meski kini disusupi uban tipis di pelipis. Di dalam gelasnya, seekor kunang-kunang berdenyar pelan.

“Aneh ya,” katanya, memutar gelas itu, “orang selalu ingin menyimpan cahaya.”

Aku menatapnya. Wajah itu masih sama, tenang, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan banyak kehilangan.

“Seperti kamu menyimpan puisi tentang kunang-kunang?”

Ia melirikku, lalu tertawa kecil.

“Aku tidak pernah benar-benar menyimpannya. Aku hanya menulisnya sebelum hilang.”

Aku mengaduk kopi.

“Bedanya tipis.”

Halaman:

Tags

Terkini