PONTIANAKGLOBE.COM, MALANG -- Pemerintah Kota Malang resmi meluncurkan Landmark Malang City of Media Arts sebagai simbol komitmen dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) di bidang media arts. Peresmian ini sekaligus menegaskan posisi Malang sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di Indonesia yang bertumpu pada kolaborasi lintas sektor.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja sama model hexahelix yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, media, dan agregator.
Baca Juga: SPBE Bekasi Terbakar Hebat, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Ia menegaskan bahwa gerakan Malang City of Media Arts lahir dari inisiatif komunitas dan anak muda sebelum akhirnya mendapat dukungan penuh pemerintah.
“Pemerintah tidak selalu harus menjadi pemain utama. Tugas pemerintah adalah menjadi enabler, fasilitator, dan akselerator agar ekosistem kreatif dapat tumbuh dan memberikan dampak bagi masyarakat,” kata Wahyu.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari penyusunan regulasi ekonomi kreatif, penguatan Malang Creative Center sebagai pusat inkubasi, hingga integrasi sektor kreatif dalam pembangunan daerah. Dukungan juga diarahkan pada subsektor film, animasi, gim, musik, desain, dan media art melalui program fasilitasi, inkubasi, serta promosi.
Koordinator Malang Creative Fusion (MCF), Dadik Wahyu Chang, menilai pengakuan dari UNESCO merupakan hasil perjalanan panjang yang dibangun secara konsisten.
“Penetapan ini bukan hadiah, tetapi buah dari kerja kolektif yang panjang. Ini adalah validasi dunia bahwa ekosistem kreatif Malang telah berada pada standar global,” ujarnya.
Ketua Tim Dossier UNESCO Malang City of Media Arts, Vicky Arief H, menegaskan bahwa capaian tersebut harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Ia menilai status UNESCO perlu diarahkan untuk mendorong transformasi kota, baik dalam diplomasi budaya maupun pengembangan ekonomi kreatif.
“Pertanyaan ke depan bukan lagi bagaimana mendapatkan UNESCO, tetapi bagaimana status ini berdampak pada masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Tim Focal Point UNESCO Malang City of Media Arts, Amar, menyoroti pentingnya menghubungkan potensi lokal dengan rantai nilai global. Ia menyebut subsektor seperti film, animasi, game, hingga konten berbasis AI membutuhkan standar internasional dari sisi talenta dan teknologi.
“Dengan kolaborasi internasional yang nyata dan transformasi menuju standar global, Malang tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Kreatif Dunia, tetapi juga berpotensi menjadi pusat rujukan media arts di Asia Tenggara,” katanya.
Baca Juga: IFG Tancap Gas! Siap Hadapi Tekanan Global Industri Asuransi
Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network, Tb. Fiki C. Satari, turut mengapresiasi peresmian landmark tersebut. Ia menyebut momentum ini sebagai awal terbentuknya ekosistem masa depan yang berbasis kolaborasi.
"Momentum ini merupakan kelahiran ekosistem masa depan yang sarat energi kolaborasi dan berpotensi menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia,” ujarnya.