PONTIANAKGLOBE.COM, SINGKAWANG -- Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang, Kalimantan Barat, digelar pada Selasa (3/3/2026). Pembukaan berlangsung di kawasan Kantor Wali Kota Singkawang yang menjadi titik awal berkumpulnya para Tatung sebelum mengikuti pawai budaya.
Sejumlah pejabat nasional tampak hadir, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, serta Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto. Delegasi dari Republik Rakyat Tiongkok dan Malaysia juga turut menghadiri perayaan tersebut, mempertegas posisi Cap Go Meh Singkawang sebagai agenda budaya bertaraf internasional.
Baca Juga: Puding MBG Berbelatung, Julfa Hannan Akui Lalai
Dalam sambutannya, AHY menyebut Cap Go Meh sebagai simbol persatuan di tengah ketidakpastian global.
“Ini momen spesial. Singkawang hadir sebagai kota keberagaman. Festival ini bukan hanya ekspresi budaya yang luhur dan baik untuk dijaga, tetapi juga sebuah pernyataan bahwa Indonesia kuat karena keberagamannya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung situasi geopolitik dunia yang dinilai berdampak pada ekonomi nasional.
“Dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik di Eropa dan Timur Tengah tentu akan kita rasakan dampaknya, terutama secara ekonomi. Tapi dari Singkawang kita melihat harmoni. Ini energi positif untuk Indonesia,” katanya.
AHY menegaskan pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia dan nilai toleransi.
“Kita akan kawal pembangunan, mulai dari jalan, jembatan, air bersih, hingga pendidikan dan kesehatan. Pada akhirnya, pembangunan harus berdampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Bambang Wuryanto dalam pidatonya menyampaikan bahwa Imlek dan Cap Go Meh bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan refleksi kebangsaan.
“Perayaan Imlek bukan hanya pergantian tahun, tapi peneguhan harapan. Cap Go Meh di Singkawang adalah simbol terang dan harmoni,” ujarnya.
Baca Juga: Guru di Blitar Keluhkan Aturan Kantong MBG Saat Ramadan
Ia juga mengingatkan bahwa pengakuan Imlek sebagai hari nasional merupakan bagian dari perjalanan reformasi di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid.
“Bangsa ini belajar dari masa lalu. Reformasi di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid menjadikan Imlek sebagai hari yang diakui secara nasional. Itu bukti bahwa negara hadir untuk semua,” katanya.
“Indonesia harus tetap konsisten tidak berpihak, mengedepankan dialog dan keadilan. Dari Singkawang, kita kirim pesan kepada dunia bahwa toleransi itu nyata,” lanjutnya.