pontianak-insights

Kesaksian Bocah Aceh Tamiang, Air Banjir Naik Hingga Seatap Rumah

Selasa, 13 Januari 2026 | 08:08 WIB
Seorang anak di Aceh Tamiang ceritakan detik-detik banjir menghantam rumahnya. (Dok. Instagram/jendral_koki)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu masih meninggalkan luka mendalam bagi para korban.

Banjir bandang yang disertai tanah longsor merenggut ribuan nyawa, merusak permukiman warga, serta memaksa banyak keluarga mengungsi ke posko pengungsian maupun ke rumah kerabat.

Baca Juga: Aceh Tengah Disebut Baik-baik Saja, Relawan Tunjukkan Takengon Masih Dikepung Longsor

Lebih dari sebulan setelah bencana, ingatan akan detik-detik mencekam saat air bah datang dengan arus deras, bahkan disertai gelondongan kayu, masih membekas di benak warga.

Salah satu kisah tersebut datang dari Aceh Tamiang, ketika seorang anak menceritakan langsung pengalaman saat banjir menghantam kampung dan rumahnya.

Kisah itu dibagikan oleh seorang influencer sekaligus relawan yang terlibat dalam kegiatan dapur umum bersama King Abdi di Aceh Tamiang. Dalam video yang diunggah di akun Instagram @jendral_koki pada Minggu (11/1/2026), anak tersebut menceritakan bahwa banjir awalnya terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah mereka.

“Awalnya di dekat kampung kami sana tuh cuma banjir (karena) hujan aja, langsung habis, langsung surut. Tapi ini nggak surut-surut karena hujan itu,” ucapnya.

Ia menuturkan, hujan terus turun hingga malam hari dan situasi semakin memburuk ketika longsor terjadi di sekitar permukiman. Kondisi semakin mencekam saat aliran listrik padam dan pohon besar tumbang di tengah hujan yang masih deras.

“Habis itu, malam ada longsor. Tiba-tiba mati lampu, terus ada pohon besar tumbang. Di malam itu hujannya udah tenang tapi masih deras,” lanjutnya.

Menurut pengakuan anak tersebut, banjir yang tak kunjung surut membuat debit air terus meningkat hingga akhirnya masuk ke kampung mereka. Wilayah yang sebelumnya tidak terdampak banjir, akhirnya ikut terendam.

“Besoknya, hujan jam 09.00 WIB langsung di sini air semua seatap rumah. Awalnya kampung kami nggak kena banjir, jadi kena banjir,” terangnya.

Baca Juga: Sebulan Pascabanjir, Desa di Aceh Tamiang Masih Tertimbun Kayu

Ia bahkan menggambarkan kondisi banjir saat itu seperti gelombang besar yang datang tiba-tiba.

“Ini sekarang kan kayak tsunami sungai,” tambahnya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 9 Januari 2026, total korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di tiga provinsi tersebut mencapai 1.182 orang. Selain itu, sebanyak 145 orang masih dinyatakan hilang.

Halaman:

Tags

Terkini