pontianak-insights

Influencer Sherly Annavita Ungkap Perjuangan Petani Durian di Aceh Tengah Pascabanjir

Selasa, 6 Januari 2026 | 07:39 WIB
Menyoroti cerita tentang jerih payah petani buah durian ketol asal Aceh yang terdampak bencana banjir bandang. (Dok. Instagram.com / @karantinaaceh - @sherlyannavita)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TENGAH -- Influencer asal Aceh, Sherly Annavita, membagikan kisah getir perjuangan warga Aceh Tengah yang masih berjibaku mempertahankan hidup pascabanjir bandang akhir November 2025.

Melalui unggahannya di Instagram, Sherly menyoroti nasib para petani durian ketol yang harus menghadapi kenyataan pahit di tengah masa panen.

Baca Juga: Sumur Bor Rp15 Juta vs Rp150 Juta, Publik Bertanya Soal Transparansi Keuangan Negara

Menurut Sherly, durian ketol yang dikenal memiliki cita rasa unggulan dan kerap menjadi incaran pasar, ternyata menyimpan kisah pilu di balik setiap buah yang dijual.

Ia menyebut, akses penghidupan warga terputus sejak jembatan penghubung di Dusun Ayun tersapu banjir.

“Sejak 26 November 2025, ketika jembatan penghubung di Dusun Ayun tersapu banjir,” ungkap Sherly melalui akun Instagram @sherlyannavita, Senin (5/1/2026). 

“Tiga kampung: Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Renduk di Aceh Tengah terputus dari penghidupan mereka,” lanjutnya.

Sherly menjelaskan, rentang Desember hingga April seharusnya menjadi masa penuh harapan bagi para petani durian. Pada periode tersebut, hasil panen berkualitas tinggi biasanya siap dipasarkan.

Namun kenyataan di lapangan justru jauh dari kata manis. Video yang dibagikan Sherly memperlihatkan warga harus melewati tebing curam dan jalur berbahaya akibat jembatan yang terputus demi membawa hasil tani ke pasar.

“Ongkos angkut yang melambung tinggi menyisakan petani dengan hanya 25–50 persen dari harga normal,” sambungnya.

Ia menggambarkan bagaimana solidaritas antarwarga menjadi satu-satunya penopang di tengah keterbatasan. Para petani di Kampung Bergang, Kecamatan Ketol, saling membantu mengangkut durian agar bisa sampai ke pasar.

“Setiap buah durian yang sampai ke pasar, diangkat dengan cucuran keringat, nyawa, dan air mata,” jelasnya.

“Perjalanan durian: Dipikul oleh kuli penyebrang seharga Rp 2.000 per buah, diteruskan oleh tukang ‘langsir’ bersepeda motor melalui jalur tebing terjal dengan ongkos Rp 80.000–150.000 per trip,” papar Sherly.

Baca Juga: Psikolog Bongkar Akar Konflik Rumah Tangga, Ekonomi Jadi Pemicu Terbesar

Di balik perjuangan tersebut, Sherly juga menyinggung risiko besar yang harus dihadapi warga. Akses jalan yang minim pengamanan membuat setiap perjalanan menjadi taruhan nyawa.

Halaman:

Tags

Terkini