pontianak-insights

Psikolog Bongkar Akar Konflik Rumah Tangga, Ekonomi Jadi Pemicu Terbesar

Selasa, 6 Januari 2026 | 07:27 WIB
Psikolog Irfan Aulia ungkap menerima klien dengan kasus keluhan soal ekonomi. (Dok. YouTube/Forum Keadilan TV)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan mental kini semakin meningkat, termasuk dengan datang berkonsultasi ke psikolog. Dalam praktik sehari-hari, psikolog Irfan Aulia mengungkapkan bahwa persoalan ekonomi menjadi salah satu isu paling dominan yang dibawa klien ke ruang konseling.

Irfan menyebut, masalah ekonomi kerap menjadi beban berat yang berimbas langsung pada keharmonisan keluarga. Hal itu ia temui berulang kali, terutama saat menangani konseling pasangan dan keluarga.

“Paling kelihatan itu ekonomi, saya banyaknya konseling keluarga, yang paling kelihatan itu ekonomi. Berat ekonomi itu,” ujar Irfan Aulia dalam podcast yang diunggah di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Minggu (4/1/2026). 

Baca Juga: Sisa Kayu dan Lumpur Jadi Hambatan, Relawan Tetap Bergerak

“Banyak sekali rumah tangga itu goyang karena faktor ekonomi,” tambahnya.

Menurut Irfan, banyak persoalan rumah tangga sejatinya berawal dari komunikasi yang tidak berjalan baik, namun kemudian memuncak karena tekanan ekonomi. Masalah ekonomi menjadi pemicu utama yang membuat konflik semakin sulit dikendalikan.

“Banyak sekali keluhan hilirnya itu di ekonomi, hulunya di komunikasi antar mereka (pasangan). Tapi, yang bikin itu kena crash karena faktor ekonomi,” paparnya.

Ia mencontohkan tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, mulai dari pemutusan hubungan kerja hingga beratnya biaya hidup sehari-hari.

“(Misalnya) dipecat, PHK, terus kemudian rumah mahal, kontrakan. Ya, faktor ekonomi,” imbuhnya.

Tekanan ekonomi tersebut, lanjut Irfan, juga dirasakan secara luas oleh masyarakat pekerja. Ketimpangan antara narasi pertumbuhan ekonomi dan realitas di lapangan membuat banyak orang berada dalam situasi penuh kecemasan.

“Kita kerja susah, orang bilang angka ekonomi naik tapi realitanya kanan-kiri orang dipecatin,” tuturnya.

Ia juga menyoroti dominasi sektor informal di Indonesia yang meski menjadi penopang, namun belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman bagi pekerja.

“Sektor informal kita paling banyak, okelah sektor informal itu membantu tapi kan nggak ada penggeraknya,” katanya.

Baca Juga: Rumah dan Sekolah Hancur, Harapan Bocah Aceh Tamiang Pascabanjir

Kondisi tersebut sejalan dengan laporan World Bank East Asia and The Pacific Economic Update Oktober 2025. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik menghadapi tantangan serius dalam penciptaan lapangan kerja.

Halaman:

Tags

Terkini