pontianak-insights

Paket Murah, Venue Fantastis, Ending Tragis ala Wedding Organizer Ayu Puspita

Minggu, 14 Desember 2025 | 19:52 WIB
Kasus penipuan WO Ayu Puspita yang rugikan para korban hingga Rp11,5 miliar. (Dok. Instagram/poldametrojaya)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kasus penipuan yang melibatkan wedding organizer By Ayu Puspita terus menjadi perhatian publik. Momen sakral pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi pengalaman pahit bagi para calon pengantin.

Sejumlah korban mengaku acara pernikahan mereka berantakan karena katering tidak datang hingga vendor yang mendadak membatalkan kerja sama, meski pembayaran telah dilakukan kepada pihak WO.

Baca Juga: Di Pengungsian Aceh Tamiang, Mukena Jadi Kebutuhan yang Terlupakan

Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa dana yang dihimpun dari para korban tidak digunakan untuk operasional usaha, melainkan dialihkan untuk kepentingan pribadi pemilik WO. Aparat menyebut motif ekonomi menjadi latar belakang utama terjadinya penipuan tersebut.

“Dari keuntungan yang diperoleh atas perbuatan yang dilakukan oleh para tersangka ini digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (13/12/2025). 

Iman menjelaskan, uang korban dipakai untuk berbagai kebutuhan nonbisnis.

“(Uangnya) untuk membayar cicilan rumah, untuk kegiatan jalan-jalan ke luar negeri, dan untuk kepentingan-kepentingan pribadi lainnya,” lanjutnya.

Penyidik juga masih menelusuri kemungkinan adanya aset lain yang diduga berasal dari hasil kejahatan tersebut.

“Penyidikan terhadap dugaan aset-aset lain yang dilarikan ke tempat lain, kami akan terus kembangkan penyidikan sampai tuntas,” kata Iman.

Dalam praktiknya, para korban disebut tergiur oleh promosi paket pernikahan murah dengan fasilitas yang terkesan mewah. Iman menjelaskan bahwa tawaran tersebut dirancang untuk menarik minat calon pengantin.

“Ada yang ditawarkan kepada para korban ini dalam bentuk fasilitas, pertama adalah paket murah. Kemudian dari paket murah tersebut ada fasilitas lain yang ditawarkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, paket tersebut kerap dibungkus dengan janji venue megah hingga bonus liburan.

“Misalnya tempat pelaksanaan pernikahan yang fantastis, kemudian ada paket liburan ke tempat-tempat yang ditawarkan para tersangka, ke Bali misalnya dengan paket honeymoon,” sambung Iman.

Skema promosi itu membuat banyak korban bersedia membayar uang muka hingga pelunasan lebih awal. Namun, besaran kerugian yang dialami setiap korban berbeda-beda.

“Kerugian masing-masing korban cukup variatif karena mereka dimintakan membayar DP lebih dulu, sehingga kerugiannya cukup variatif,” jelasnya.

Halaman:

Tags

Terkini