Tak ada waktu untuk melihat, di siang bolong, Sungai-sungai penuh bintang, bagai langit di malam hari.
Baca Juga: Mahfud Menduga Adanya Praktik Kolusi di Balik Banjir Sumatera
Tak ada waktu untuk menoleh pada tatapan Si Cantik, Dan memperhatikan kakinya, bagaimana ia menari.
Tak ada waktu untuk menunggu hingga mulutnya dapat Memperkaya senyum yang dimulai oleh matanya.
Hidup yang malang ini, penuh dengan kekhawatiran, kita tak punya waktu untuk berdiri dan menatap.
Seperti yang ditegaskan Davies, kita butuh waktu untuk berdiri dan menatap, serta 'merasa tersesat'—merasa tersesat dalam keagungan alam, dan juga merasa tersesat dalam keindahan alam yang 'biasa'!
Di dekat komunitas kami terdapat sebuah kanal yang air sungainya sesekali mengalir ketika Dinas Air melepaskan air untuk irigasi.
Ketika air seperti itu mengalir, sungguh indah melihat keluarga-keluarga berpiknik.
Ini bukan tempat piknik biasa, tetapi orang-orang sederhana ini menemukan keindahan dalam aliran air yang biasa ini dan mereka merayakan hidup dengan air yang mengalir.
Sayangnya, saat ini, kita terlalu 'sibuk' untuk menikmati keindahan hidup.
Fokus yang berlebihan pada kenyamanan manusia telah membuat kita mengalihkan perhatian pada eksploitasi, mengubah keinginan menjadi kebutuhan, dan menempatkan kemewahan buatan sebagai satu-satunya prioritas hidup.
Kita tampaknya telah kehilangan rasa estetika alami, kemampuan untuk merasakan keindahan di dalam dan di sekitar kita.
Industri pariwisata komersial memproyeksikan beberapa tempat sebagai "menarik" dan banyak yang menjadi korban gimmick pemasaran ini.
Namun, ini bukan berarti tempat-tempat ini tidak memiliki kualitas yang unik dan luar biasa.
Yang hilang adalah kegagalan kita untuk 'melihat' keindahan alam di sekitar kita.