pontianak-insights

Mitigasi Gagal, Korban Bertambah: BNPB Ungkap Ketidaksiapan Pemda di Tiga Provinsi

Selasa, 2 Desember 2025 | 21:04 WIB
Salah satu jembatan terputus akibat banjir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. (Dok. BPBD Kabupaten Tapanuli Utara)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh setelah hujan ekstrem turut dibahas dalam rapat di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin 1 Desember 2025. Rapat tersebut digelar untuk mengevaluasi kesiapan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sekaligus membahas antisipasi bencana hidrometeorologi.

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, mengingatkan pemerintah daerah agar memahami risiko bencana di wilayah masing-masing.

Baca Juga: Pegawai SPBU Pakai Jeans? Publik Ramai-Ramai Mengkritik Pertamina

Ia menilai pemimpin daerah sering menjadikan curah hujan tinggi sebagai alasan, padahal banyak persoalan muncul akibat buruknya tata ruang.

“ini yang sering kali terjadi dan sering kali menyalahkan curah hujan yang tinggi sehingga mereka tidak siap, padahal sebetulnya juga ada permasalahan misalnya tata ruang,” ucap Raditya Jati.

Ia menegaskan pentingnya pemerintah daerah bergerak cepat tanpa menunggu bantuan pusat, termasuk terkait status darurat atau kaji cepat kebencanaan.

“Yang paling penting adalah kepala daerah paham, jadi jangan menunggu kejadian bencana baru meminta bantuan dari pusat,” imbuhnya.

Raditya juga menyoroti pentingnya pemda merespons cepat informasi dari BMKG yang disampaikan sebagai peringatan dini.

Ia mencontohkan pelanggaran tata ruang seperti pembangunan rumah di sempadan sungai di wilayah Jabodetabekpunjur, yang ikut meningkatkan risiko bencana.

“Contoh saja beberapa wilayah di Jabodetabekpunjur, banyak rumah-rumah yang tinggal persis melanggar sempadan sungai. Kami punya datanya, kami ada datanya via satelit,” ungkapnya.

Ia menyebut tingginya korban jiwa dalam bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terjadi karena pemda dianggap tidak siap dan masyarakat kurang mendapatkan informasi langsung.

“Terhadap kejadian ancaman yang ada di Aceh, kemudian di Sumatera Utara, juga dengan Sumatera Barat, ini mengakibatkan banyak korban jiwa dan sesuatu yang bisa dikatakan mungkin tidak siap karena masyarakatnya juga tidak terinfokan secara langsung,” lanjutnya.

Dalam rapat yang sama, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem sejak jauh hari. Siklon tropis Senyar yang menyebabkan intensitas hujan tinggi di tiga provinsi telah terdeteksi delapan hari sebelum bencana.

“Jadi di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat itu Kepala Balai 1, Balai Besar BMKG Wilayah 1 itu sudah mengeluarkan warning delapan hari sebelumnya, diulang lagi empat hari sebelumnya, kemudian dua hari sebelumnya,” ucap Fathani.

Ia menegaskan bahwa BMKG sudah mengeluarkan siaran pers empat hari sebelum bencana untuk Aceh dan Sumatera Barat, serta delapan hari untuk Sumatera Utara.

Halaman:

Tags

Terkini