pontianak-insights

33 Ribu Warga Terdampak, SAR Akui Ini Salah Satu Operasi Terberat

Selasa, 2 Desember 2025 | 16:40 WIB
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii ungkap perkembangan terbaru soal penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. (Dok. YouTube/TVR Parlemen)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memaparkan perkembangan terbaru penanganan banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam rapat bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen, Senin, 1 Desember 2025.

Ia menjelaskan skala bencana yang sangat besar, jumlah warga terdampak yang melonjak, serta kondisi korban di wilayah terisolasi yang belum tersentuh layanan medis.

Baca Juga: Tito Blak-blakan soal Banjir Sumatera: Semua Sudah All Out!

Syafii menyebut total warga terdampak mencapai 33.602 orang. Dari jumlah itu, 447 korban ditemukan meninggal dunia dan 399 lainnya masih hilang dan dalam pencarian.

“Jumlah warga yang terdampak dari bencana yang ada di Aceh, Sumatera Barat, dan juga Sumatera Utara mencapai 33.602,” ujarnya.

“Kami telah mengevakuasi 447 jiwa dalam kondisi meninggal dan yang terlaporkan masih dalam pencarian 399 jiwa,” sambungnya.

Ia mengungkapkan kondisi korban di daerah terisolasi sangat memprihatinkan, termasuk di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Banyak warga mengalami luka parah seperti patah terbuka dan belum mendapat penanganan medis selama berhari-hari.

“Rata-rata kondisi korban yang ada di daerah terisolasi ini ada beberapa bahkan banyak luka patah terbuka yang sebenarnya sudah lebih dari 5 hari belum mendapatkan sentuhan medis,” jelasnya.

Basarnas telah menerjunkan helikopter untuk menjangkau wilayah tersebut dan mengirim bantuan darurat.

Syafii mengatakan operasi kali ini termasuk yang paling berat karena bersifat multi-bencana banjir, banjir bandang, lumpur, hingga longsor yang muncul beruntun dan saling berkaitan. Medan yang sulit, cuaca ekstrem, dan kelelahan personel membuat proses SAR berlangsung dengan tantangan besar.

“Kondisi bencana yang terjadi memerlukan effort yang agak ekstra di mana tidak seperti kalau misalkan kita mengalami kedaruratan di gedung atau di titik khusus,” katanya.

Baca Juga: Tak Tetapkan Darurat Nasional, Tapi Prabowo Kerahkan Semua Pasukan

Basarnas kini memprioritaskan penilaian cepat melalui pemantauan udara untuk menentukan pola evakuasi yang tepat.

“Prioritas operasi yang kami laksanakan saat ini yaitu melaksanakan assesmen cepat menggunakan udara,” tegasnya.

Selain evakuasi, Basarnas juga mengirimkan logistik menggunakan helikopter dan kapal untuk menjangkau wilayah yang tidak dapat diakses lewat darat.

Halaman:

Tags

Terkini