pontianak-insights

Produktivitas, Nilai, dan Konsumen untuk Ekonomi yang Lebih Manusiawi

Sabtu, 29 November 2025 | 11:18 WIB
Dokumentasi Samuel menjadi narasumber (AKUB - San Agustin)

PONTIANAKGLOBE.COM | Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan ekonomi global, konsep produktivitas sering kali dipahami semata-mata sebagai kecepatan, efisiensi, dan kemampuan menghasilkan output sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Perusahaan menuntut pekerja untuk bekerja lebih cepat, konsumen terdorong untuk terus membeli lebih banyak, dan waktu diperas hingga tak bersisa.

Namun, apakah produktivitas yang kita kejar selama ini benar-benar menciptakan nilai bagi manusia? Ataukah justru kita terjebak dalam ekonomi yang menegakkan kuantitas di atas kualitas hidup?

Dalam bukunya Value(s) Building a Better World for All, Mark Carney—mantan Gubernur Bank of England—mengemukakan bahwa dunia modern makin jauh dari nilai (values) yang mendasari nilai ekonomi (value).

Kita terlalu sering menyamakan harga dengan nilai, padahal tidak semua yang berharga dapat dinilai secara finansial. Kepercayaan, kebersamaan, kesehatan mental, dan keberlanjutan planet tidak masuk hitungan sederhana pasar, tetapi justru fondasi keberlangsungan hidup manusia.

Carney mengingatkan bahwa ekonomi seharusnya berada dalam pelayanan masyarakat, bukan sebaliknya.

Pertanyaan serupa juga diajukan Oliver Burkeman dalam Four Thousand Weeks: Time Management for Mortals. Jika rata-rata umur manusia hanya sekitar 4.000 minggu, mengapa kita sibuk mengejar kesibukan? Mengapa produktivitas diukur dengan seberapa padat jadwal kita, bukan seberapa bermaknanya hidup?

Burkeman menekankan bahwa manajemen waktu bukanlah tentang menjejalkan lebih banyak aktivitas, tetapi memilih apa yang benar-benar bernilai untuk hidup kita yang singkat.

Dua perspektif ini membuka diskusi penting dalam manajemen pemasaran, apa yang sebenarnya dicari konsumen? Nilai yang sejati atau sekadar ilusi kebutuhan?

Bukan Sekadar Barang

Ilmu pemasaran kini tidak lagi bisa hanya bicara angka penjualan dan strategi promosi. Konsumen bukan objek pasif, melainkan subjek yang memiliki nilai, emosi, dan aspirasi. Di dalam Consumer Behavior (2023), Ayalla Ruvio dan Dawn Iacobucci menegaskan bahwa pemahaman konsumen harus mencakup faktor psikologis, sosial, budaya, bahkan spiritual. Konsumen melakukan pembelian untuk memenuhi kebutuhan mendalam, rasa aman, penerimaan sosial, aktualisasi diri—seperti yang dahulu dirumuskan Abraham Maslow.

Sementara itu, S. Gupta melalui How People Buy Online (2021) menunjukkan bahwa dalam dunia digital, keputusan membeli tidak selalu rasional. Ia sering dipicu oleh desain antarmuka, ulasan palsu, rasa takut tertinggal tren (FOMO), hingga algoritma yang mempelajari kelemahan psikologis kita. Internet menciptakan pasar tanpa batas—dan juga godaan tanpa batas.

Namun, apakah konsumen hanya bisa dimanipulasi? Tidak. Penelitian M. C. Mason (2023), Effect of Consumption Values on Consumer Behavior: A Meta-Analysis, menemukan bahwa nilai fungsional, sosial, emosional, dan epistemik (rasa ingin tahu dan pembelajaran) turut menentukan perilaku konsumsi. Artinya, konsumen juga bisa memilih berdasarkan kesadaran akan nilai yang lebih tinggi produk yang ramah lingkungan, brand yang bertanggung jawab, atau pengalaman yang memperkaya hidup.

Belajar dari Timur

Di pihak lain, filosofi manajemen Asia menampilkan wajah produktivitas yang berbeda.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB