pontianak-insights

Membaca Ulang Realitas Pasar

Jumat, 21 November 2025 | 09:38 WIB
Samuel, S.E., M.M. Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa. (Samuel)

PONTIANAKGLOBE.COM | Pada awal bulan November 2025, mahasiswa yang turut ikut dalam perkuliahan yang saya ajar mulai memasuki masa Ujian Tengah Semester (UTS). Khusus mata kuliah Manajemen Pemasaran (MP) juga termasuk dalam UTS tersebut. Salah satu pertanyaan yang saya berikan yakni, Why is marketing considered important for both profit and non-profit organizations? Support your answer with an example!

Cukup menarik juga untuk direnungkan, dari dasar pertanyaan itu saya juga ke-pikir-an bahwa apa jadinya ketika pasar menjadi teks dan di wadah yang sama ada peran marketing, ekonomi dan yang pasti adalah strategi manajemen?  Sekarang kita sudah (suka atau tidak) masuk di ‘era pembacaan ulang realitas pasar’.

Coba kita bayangkan bahwa, dalam dunia yang bergerak cepat, kita sering tergoda untuk melihat bisnis sebagai sekadar mesin untung—angka, grafik, target penjualan, laporan laba-rugi.

Namun barangkali kita lupa bahwa di balik angka-angka itu, ada sesuatu? Maksud saya, bisnis (dalam arti sistem), manajemen, termasuk juga pemasar adalah bentuk percakapan, pertukaran makna, dan bahkan interpretasi tentang siapa manusia itu sendiri. Jika ekonomi adalah panggung, maka dalam konteks ini saya lebih suka menggarisbawahi bahwa marketing adalah bahasa yang menghubungkan aktor-aktornya.

Sedangkan strategi manajemen itu merupakan tata letak naskah yang menentukan bagaimana sandiwara itu dimainkan. Tiga elemen ini bukan sekadar disiplin teknis, konsep-konsep itu merupakan cara ‘kita’ membaca dan menulis ulang hubungan manusia dalam lanskap pasar.

Para pemikir ekonomi (manajemen strategi) - pernah mengingatkan bahwa ekonomi bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan tertanam dalam jaringan sosial, budaya, dan moral. Artinya, pertukaran barang dan jasa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang pengakuan, identitas, dan imajinasi.

Dalam pengertian ini, marketing tidak lagi sekadar mengiklankan produk, melainkan mengelola persepsi, membentuk makna, bahkan ikut mendesain siapa “kita” sebagai konsumen.

Dalam konteks ini - Ekonomi bukan lagi soal kurva permintaan dan penawaran, tetapi medan tawar-menawar nilai. Manajemen strategi sekarang bukan lagi seni memerintah, namun ia adalah seni membaca perubahan, merasakan denyut realitas, dan menggerakkan organisasi dalam horizon yang penuh ketidakpastian.

Marketing sebagai Bahasa Makna

Jika ekonomi itu infrastruktur pertukaran, maka marketing itu semantik yang menjadikannya hidup. Sekarang bukan sekadar teknik menjual, tetapi proses (hermeneutik) membaca keinginan manusia, menafsirkan harapan, lalu menciptakan simbol-simbol baru yang diterima pasar. Kotler sendiri telah bergeser dari marketing mix (4P) menuju marketing humanis.

Faktanya manusia kini tidak membeli barang—mereka membeli cerita, identitas, pengalaman, bahkan pengakuan diri, tepat sekali seperti apa yang ditulis Abraham Maslow (beliau populer bagi mahasiswa jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia).

Dalam era digital  konsumen bukan lagi objek, tetapi subjek yang ikut menulis ulang narasi produk. Karena itu, perusahaan yang gagal mengerti bahasa pasar bukan hanya gagal berjualan—ia gagal berkomunikasi secara eksistensial. Sridhar & Hughes (2021) menegaskan bahwa data analitik kini menjadi tulang punggung marketing modern. Namun data tidak otomatis bermakna, ia juga mesti ditafsirkan. Inilah wilayah di mana penafsiran (interprestasi) bertemu dashboard penjualan, angka tidak berbicara, manusialah yang memberi suara.

Ekonomi sebagai Ruang Pertukaran Nilai

Ekonomi tidak pernah netral, boleh kita artikan seperti cermin struktur kekuasaan, distribusi kesempatan, dan imajinasi kolektif. Apa yang kita sebut “nilai” dalam ekonomi bukan benda konkret, melainkan kesepakatan sosial. Dulu kita kenal ada sistem barter (barang ke barang) namun seiring waktu berkembang menjadi uang berbentuk koin dan kertas.

Halaman:

Tags

Terkini