Ke depan kompetisi tidak lagi semata-mata soal “siapa lebih murah” atau “siapa lebih cepat”, namun siapa yang paling mampu menafsirkan dirinya, pelanggannya, dan dunianya.
Organisasi atau kelompok yang gagal memaknai realitas akan punah bukan karena kalah bersaing, tetapi karena kehilangan relevansi ontologis.
Akhirnya yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling siap membaca ulang dunia—sekali lagi, dan lagi. Serupa pula dengan ungkapan dari Negeri Assisi yang berbunyi, “Sampai saat ini, kita belum berbuat apa-apa, mari kita coba lagi,” kata Santo Fransiskus dari Assisi. Semoga!!!