Membaca Ulang Realitas Pasar

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Jumat, 21 November 2025 | 09:38 WIB
Samuel, S.E., M.M. Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa. (Samuel)
Samuel, S.E., M.M. Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa. (Samuel)

Coba lihat lebih jauh bahwa, sekarang uang bukan sekadar alat tukar dibalik itu justru tampak jelas konsensus simbolik. Oleh karenanya, setiap perubahan ekonomi selalu merupakan perubahan dalam struktur makna dari ekonomi industri ke ekonomi digital - dari kapitalisme produksi ke kapitalisme atensi dan dari barang fisik ke experience economy.

Sebagaimana yang Prof Rhenald Kasali (Pemikir Ekonomi, Manajemen Indonesia) katakan bahwa dalam konteks ini, ekonomi perusahaan bukan hanya tentang efisiensi, tetapi tentang relevansi (berkaitan, atau memiliki hubungan langsung dengan suatu hal yang sedang dibicarakan atau dibahas). Tak heran jika Prof Rhenald Kasali memiliki slogan ‘stay relevant’ – di channel Youtube-nya Rumah Perubahan.

Teori klasik tentang keunggulan kompetitif kini bergeser ke kemampuan membaca arah angin—tak cukup hanya menghitung biaya, namun diharapkan bisa memahami dinamika nilai yang terus berubah. Pasar hari ini tidak lagi menghargai yang termurah, tetapi yang paling bermakna, lestari, dan yang paling essensial dari itu adalah ‘pantas dipercaya’.

Seni Mengatur Waktu dan Ketidakpastian

Jika marketing adalah bahasa dan ekonomi adalah konteks, maka strategi manajemen merupakan arsitekturnya.  Manajemen tidak pernah hanya tentang struktur organisasi, inilah kesesatan berpikir yang seringkali ditafsikan secara dangkal. Justru manajemen itu merupakan disiplin untuk mengubah keterbatasan menjadi kemungkinan. Buku-buku strategi terbaru menegaskan bahwa dunia bisnis masa depan bukan soal siapa yang kuat, tetapi siapa yang paling adaptif.

Salah satu pemikir, Henry Mintzberg pernah berkata, bahwa strategi bukan lah rencana yang lahir dari ruang rapat, tetapi pola yang tercipta dari keputusan-keputusan yang diambil dalam perjalanan. Dengan kata lain, strategi itu juga interpretasi yang terus diperbarui dan sebuah praktik membaca teks yang ‘praksis’. Pada titik ini, manajemen strategi lebih mirip seorang konduktor orkestra dibanding seorang jenderal perang, sebab ia tidak mengontrol setiap nada, tetapi memastikan harmoni secara keseluruhan.

Di sinilah sinergi ketiga elemen itu menjadi jelas, mulai dari marketing untuk membaca pasar, ekonomi memetakan nilai dan manajemen yang menyusun semua respons dari apa yang sudah ‘tilik’. Ketiganya membentuk siklus pengetahuan dari interpretasi, artikulasi, hingga eksekusi.

Membaca Ulang Realitas Pasar

Perusahaan-perusahaan yang tumbang dalam satu dekade terakhir bukanlah yang kekurangan modal, bukan juga mereka bodoh tetapi mereka gagal menafsirkan ulang dunia. Contoh populer yang sering saya pakai dalam perkuliahan seperti Kodak.

Ia tidak gagal karena kurang kamera, tetapi karena kodak membaca dirinya sebagai produsen film, bukan sebagai pengelola memori manusia. Atau contoh legend sejak saya masih berkuliah dulu hingga sekarang yaitu Nokia.

Produknya waktu itu (Nokia) sebetulnya tidak kalah karena kurang insinyur, tetapi karena gagal memahami bahwa ponsel telah berubah dari alat komunikasi menjadi ekstensi identitas.

Hari ini, ketika kecerdasan buatan masuk ke ruang ekonomi, marketing, dan manajemen—pertanyaannya bukan lagi “apa alatnya?”, tetapi “apa maknanya?”.

Sekarang AI bukan hanya efisiensi, tetapi revolusi ‘epistemik’, bagaimana kita mengetahui, merasa, dan memutuskan. Strategi perusahaan mestinya bertransformasi dari mengelola barang menjadi mengelola makna di tengah banjir informasi.

Manajemen sebagai Teks

Sekarang marketing management mengajarkan kita bahwa teks tidak hanya dibaca, tetapi ditafsirkan. Pasar juga demikian - bukan sungai uang, namun aliran makna. Organisasi, UMKM atau Perusahaan yang ingin hidup lama mestinya belajar membaca lapisan-lapisan realitas dunia mulai dari melihat ekonomi sebagai struktur, marketing sebagai bahasa, manajemen sebagai tindakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Samuel, S.E., M.M.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X