PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Ketika Che Guevara akhirnya tertangkap di persembunyiannya setelah keberadaannya dibocorkan oleh seorang gembala domba, yang menanyai si gembala dengan heran, “Mengapa kau menyerahkan seseorang yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kaum tertindas seperti dirimu?” Dengan tenang, sang gembala menjawab, “Perangnya membuat domba-dombaku gelisah.”
Kisah serupa terjadi di Mesir, ketika Muhammad Karim memimpin perlawanan sengit melawan pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte. Setelah perjuangan panjang, Karim tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Baca Juga: Malam Merah di Atas Cirebon, Misteri yang Masih Menggantung di Langit Jawa Barat
Namun Napoleon, yang kagum pada keberaniannya, memanggilnya dan berkata, “Aku menyesal harus menghukum mati seorang yang dengan gagah berani membela negerinya. Aku tak ingin sejarah menulisku sebagai pembunuh pahlawan."
Sebagai gantinya, Napoleon menawarkan pengampunan dengan syarat: Karim harus membayar sepuluh ribu keping emas sebagai ganti rugi atas prajurit Prancis yang gugur.
Karim menjawab dengan tenang, “Aku tak punya uang sebanyak itu, tetapi banyak pedagang berutang padaku lebih dari seratus ribu keping emas.” Napoleon pun memberinya kesempatan untuk menagih utangnya.
Dengan rantai di tangannya dan penjajah di sisinya, Karim berjalan ke pasar berharap rakyatnya akan menolongnya. Namun, para pedagang justru berpaling. Mereka menyalahkannya atas kehancuran kota dan kerugian dagang yang mereka alami. Tak satu pun yang bersedia membantunya.
Karim akhirnya kembali menghadap Napoleon dengan langkah berat. Sang penakluk berkata, “Aku tidak punya pilihan selain menjalankan hukumanmu. Bukan karena kau melawan kami, tapi karena kau berjuang demi orang-orang yang terlalu takut kehilangan hartanya untuk memperjuangkan kebebasannya.” (JUD) ***