Evangelium Benih dan Luka

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Selasa, 5 Mei 2026 | 12:46 WIB
Foto ilustrasi. (Pexels @esra korkmaz)
Foto ilustrasi. (Pexels @esra korkmaz)

Puisi: Willy Wedhanta

Kau meminjam tubuhmu dari rahim ibu,
Menyisakan tapak kecil di tanah Pakak,
Rerumputan di bukit, sungai, dan lembah,
Mengingat namamu lebih lama dari musim.

Lalu kau pergi. Bukan dengan gegap,
Sebuah panggilan hanya untuk mereka
Yang paham arti pengorbanan dan keberanian,
Anak negeri yang tak surut menjaga Pertiwi.

Di lereng yang jauh itu, hutan menahan napasnya,
Kabut jatuh berlutut, pada sunyi yang tak usai.
Ketika sebutir peluru menoreh lehermu
Ia tak tinggal sebagai luka.
Ia menjadi peringatan, begitulah perjuangan.

Kau ayat paling sahih dari perumpamaan benih:
Bahwa yang jatuh ke tanah tak pernah mati,
Melainkan bertumbuh dalam catatan,
Hidup harus berbuah, dan berlipat ganda.

Tuhan memungut tubuh koyakmu,
Menenun cahaya dari sebuah bendera,
Mengubah kehilangan menjadi
Sesuatu yang terus hidup, selamanya.

Kita menyebutnya gugur.
Tapi bumi menyimpan segala kenangan.
Yang abadi, tak berakhir.
Maka biarkanlah, sesuatu menetap
Diam-diam di dalam ingatan kita,
Sebuah bisikan yang tak selesai diucapkan: "Ibu, meski belum usai, izinkan aku berpulang!"

* Puisi ini untuk mengenang Praka Anumerta Apriyanus, prajurit terbaik Batalyon Infanteri 611/Awang Long, yang gugur saat bertugas di Papua.

Tentang Penulis:

Willy Wedhanta (Willibrordus W.), lahir di Entuma, 19 Maret 1975. Menulis cerpen, puisi, dan jurnalisme sejak di SMA Seminari St Paulus Nyarumkop-Singkawang hingga studi di STFT Widya Sasana Malang. Karyanya tersebar di berbagai media dan antologi,  terbaru RESONA Track #3: Jejak Rasa yang Tak Selesai (Prince Publishing, 2026). Menetap di Lengkong Bindu, Sintang, Kalimantan Barat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X