Dia—
yang tak pernah pulang.
Ia datang tanpa bayang,
seperti angin yang hanya singgah
lalu hilang.
Menyentuh tanpa jejak,
menyapa tanpa wajah,
meninggalkan rindu
yang tak pernah genap.
Ingin kuhapus ia dari kenang,
namun namanya bergetar di ruang,
seperti gema yang terkurung
di lorong waktu yang panjang.
Dalam sunyi kutambatkan riuh,
kuredam gelombang yang runtuh.
Kupaksa hati tampak utuh,
meski diam-diam ia rapuh.
Sebab dirinya—
dukaku baginya tawa,
lukaku baginya senda.
Air mataku hanya cerita,
yang singgah sebentar lalu sirna.
Tawanya ringan mengangkasa,
sementara di dadaku
ia menjelma serpih kaca.
Langkahnya lapang tanpa beban,
bagai burung menembus awan.
Sedang aku,
akar yang terbenam dalam penantian.
Dia—
yang kunanti di ujung senja,
yang kusebut dalam doa-doa,
yang kusemat namanya
di sela napas dan luka.
Namun tak pernah ia berpaling,
tak sudi ia memandang.
Rinduku gugur sebelum berkembang,
harapku patah sebelum terang.
Dia—
yang datang tanpa bayang,
yang pergi tanpa bilang,
yang kuharap pulang,
namun memilih hilang dalam lengang. ***
*** Penulis juga dikenal dengan nama pena puisipenyair_saioe75
Artikel Terkait
Tantangan Identitas dalam Film ‘Gunung Emas Almayer’ Adaptasi Karya Sastra dari Novelis Polandia Joseph Conrad
Pater Budi Kleden SVD: Imam, Pengamat Sastra, Kritikus Sosial, dan Kini Ditunjuk sebagai Uskup Agung Ende
Bengkel Sastra Puisi 2024: Upaya Setara Tingkatkan Kualitas Penulis Kalbar
Han Kang, Novelis Korea Selatan, Raih Nobel Sastra 2024, Menjadi Wanita Asia Pertama Raih Nobel
Workshop dan Pertunjukan Sastra Lisan Karungut Menjadi Stimulus Tumbuh Kembangnya Sastra Lisan Kalimantan Barat
Benih Baru Sastra Dayak Tumbuh di Sekadau! Pra-Kongres Penulis Dayak 2025 Nyalakan Obor Literasi Borneo