REKA Bogor dan Dedie Bahas Langkah Menuju Kota Kreatif UNESCO

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 22:14 WIB
Pertemuan REKA Bogor dengan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. (Dok. Ist)
Pertemuan REKA Bogor dengan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. (Dok. Ist)

PONTIANAKGLOBE.COM, BOGOR -- Rembug Kreatif Bogor (REKA Bogor) melaksanakan audiensi bersama Dedie A. Rachim selaku Wali Kota Bogor dan jajaran perangkat daerah. Pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit itu membahas penguatan ekosistem ekonomi kreatif serta langkah strategis menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello, menegaskan bahwa ekosistem ekonomi kreatif di Kota Bogor menunjukkan pertumbuhan positif. Ia menyebut kontribusi PDRB ekonomi kreatif telah mencapai 5,72 persen dengan serapan tenaga kerja sekitar 57.000 orang.

“Ekosistem ekonomi kreatif Kota Bogor telah tumbuh. Ini terlihat dari kontribusi PDRB yang mencapai 5,72 persen dan serapan tenaga kerja kurang lebih 57.000 orang,” ujar Georgian dalam pemaparannya.

Baca Juga: 2 Jam Jalan Kaki Demi Pendidikan Anak Pelosok

Dalam lima tahun terakhir, REKA Bogor disebut konsisten menjalankan program penguatan kapasitas, festival lintas subsektor, aktivasi ruang kreatif, hingga pengembangan jejaring kolaborasi.

Bogor juga telah ditetapkan sebagai Kota Seni Pertunjukan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Penetapan tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Uji Petik PMK3I pada 26 Februari 2026 oleh Pemerintah Kota Bogor dan perwakilan ekosistem ekonomi kreatif.

REKA Bogor menilai fondasi yang telah terbentuk menjadi modal kuat untuk melangkah ke tingkat internasional melalui jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Dalam audiensi itu, Georgian sempat melontarkan pertanyaan arah pengembangan kreatif kota.

“Kang, Bogor arahnya ke Kota Seni Pertunjukan atau Kota Gastronomi?” tanyanya.

Menanggapi hal tersebut, Dedie menegaskan bahwa seluruh sektor berpotensi dikembangkan, namun membutuhkan kesiapan infrastruktur dan dukungan pendidikan.

“Di luar kuliner ada tantangannya. Kita beda sama Jogja, Bandung, Bali. Kita gak ada lembaga pendidikannya. Enggak ada sekolah seni, desain grafis, arsitektur, multimedia, teater. Maka siapkanlah infrastruktur dan suprastrukturnya,” jelas Dedie.

Baca Juga: Niat Sejak November, Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Terungkap

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sejalan dengan visi pembangunan Kota Bogor Sains Kreatif Maju Berkelanjutan.

“Kreativitas bukan hanya sektor ekonomi, tapi juga identitas dan daya saing kota,” tambahnya.

Salah satu isu strategis yang turut dibahas adalah kondisi Gedung Pertunjukan Kemuning Gading. Dedie mengungkapkan adanya temuan keretakan pada bangunan tersebut sehingga rencana renovasi yang telah dianggarkan kemungkinan harus ditunda untuk kajian teknis lebih lanjut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X