2 Jam Jalan Kaki Demi Pendidikan Anak Pelosok

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 22:10 WIB
Perjuangan untuk mengajar ke SDN Inpres 3 Terpencil Bainaa di Parigi Moutong, Sulteng. (Dok. Instagram/najib_nadir)
Perjuangan untuk mengajar ke SDN Inpres 3 Terpencil Bainaa di Parigi Moutong, Sulteng. (Dok. Instagram/najib_nadir)

PONTIANAKGLOBE.COM, PARIGI MUOTONG -- Perjuangan pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah terpencil, masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi akses dan fasilitas pendukung.

Hal itu terlihat dalam video yang diunggah akun Instagram @najib_nadir pada Sabtu (28/2/2026). Video tersebut memperlihatkan perjalanan menuju Kelas Jauh SDN Inpres 3 Terpencil Bainaa di Dusun Pasoang, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong.

Baca Juga: Niat Sejak November, Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Terungkap

Dalam video itu, sejumlah guru tampak harus melewati medan berat demi bisa sampai ke sekolah dan mengajar para siswa di pelosok.

Untuk mencapai lokasi, para guru harus menyeberangi sungai dengan berjalan kaki karena tidak tersedia jembatan penghubung. Disebutkan, setidaknya ada enam sungai yang harus dilintasi sebelum tiba di sekolah.

“Setiap 3 hari, berangkat ke sekolah diantar suaminya. Walaupun gagal seleksi PPPK PW, beliau tetap memilih mengajar di sekolah seterpencil ini,” ujar pemilik akun saat menceritakan salah satu guru.

Tak hanya persoalan akses, wilayah tersebut juga belum memiliki aliran listrik dan jaringan komunikasi yang memadai, sehingga aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan keterbatasan.

Perjalanan menuju sekolah sepenuhnya ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih tujuh kilometer. Waktu tempuhnya bisa mencapai dua hingga tiga jam, tergantung kondisi cuaca dan debit air sungai.

“Full jalan kaki sejauh 7 kilometer, butuh 2 sampai 3 jam perjalanan. Jalurnya cukup berat, melewati 6 sungai dan selain sungai, ada puluhan tanjakan yang perlu dilewati,” ungkapnya.

Di kolom komentar, pemilik akun berharap ada perhatian dari pemerintah daerah setempat terhadap kondisi sekolah tersebut.

Baca Juga: Hotman Paris Desak Hakim Baca Visum 20 Luka Radiet

Ia menyebut sekolah itu menjadi salah satu dari sekian banyak sekolah terpencil yang tidak lagi mendapatkan tunjangan khusus karena perubahan status desa menjadi desa berkembang.

Harapan pun disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong agar akses menuju sekolah dapat diperbaiki demi menunjang keselamatan dan kenyamanan para guru serta siswa.

“Tolong pemerintah kabupaten untuk atensinya, karena ini jalurnya berat bagi rekan-rekan sejawat kami untuk mendidik anak-anak di pelosok wilayah ini,” tulisnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X