Golden time sendiri merupakan masa krusial dalam upaya penyelamatan, yang umumnya berlangsung selama 72 jam atau tiga hari pertama sejak kejadian.
Syafii juga mengungkapkan bahwa proses pencarian sempat terkendala cuaca buruk dan medan yang sulit. Beberapa korban telah ditemukan, namun belum dapat dievakuasi ke rumah sakit rujukan DVI Polri.
“Dari tim di lapangan memang telah menemukan korban. Namun, karena kondisi cuaca dan medan yang ada, sehingga evakuasi belum bisa kita sampai di rumah sakit yang ditunjuk polri sebagai tim DVI (Disaster Victim Identification),” jelasnya.
Baca Juga: Togap MCI Turun ke Aceh: Merinding Lihat Rumah Rata Tertimbun Lumpur
“Prioritas yang kita laksanakan adalah SAR menggunakan sarana udara, namun karena cuaca, pesawat tidak maksimal untuk kita operasikan,” lanjut Syafii.
Sebagai informasi, pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026 di wilayah Kabupaten Maros.
Serpihan pesawat kemudian ditemukan di Gunung Bulusaraung, yang menjadi titik fokus operasi pencarian hingga saat ini.***
Artikel Terkait
Viral! Pesawat Kargo Emirates Tergelincir dan Tercebur ke Laut di Hong Kong, 2 Tewas
Prabowo Ingin Pesawat Militer jenis A400M Jadi Pemadam Kebakaran Langit, Ini Penjelasannya
Pesawat Cessna Jatuh di Sawah Karawang, Lima Awak Selamat Tanpa Luka
Operasi Jumbo BNPB di Aceh: 17 Heli, 7 Pesawat, Tapi Akses Masih Lumpuh
Pesawat ATR Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Bergerak
Serpihan Ditemukan di Bulusaraung, Misteri Pesawat ATR IAT Mulai Terkuak