Di Pengungsian Aceh Tamiang, Mukena Jadi Kebutuhan yang Terlupakan

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Minggu, 14 Desember 2025 | 19:46 WIB
Pengungsi di Aceh Tamiang yang meminta bantuan mukena untuk salat.  (Dok. TikTok/zaits_bf)
Pengungsi di Aceh Tamiang yang meminta bantuan mukena untuk salat. (Dok. TikTok/zaits_bf)

PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak dalam bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera. Bantuan kemanusiaan terus mengalir dari berbagai pihak, mulai dari influencer, selebritas, relawan, hingga pemerintah. Di sejumlah titik, posko pengungsian didirikan untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.

Di tengah derasnya arus bantuan tersebut, sebuah video dari lokasi pengungsian di Aceh Tamiang viral di media sosial. Video yang diunggah akun TikTok @zaits_bf pada Sabtu, 13 Desember 2025, memperlihatkan seorang ibu pengungsi yang menolak bantuan uang dan tambahan makanan, karena lebih membutuhkan mukena untuk beribadah.

“Ibu perlunya mukena? Ibu ini perlunya mukena, dikasih uang nggak mau. Mukena sama jilbab, ibu ini mau ibadah nggak bisa,” ujar perekam video dalam unggahan tersebut.

Baca Juga: Perpol Polri Dipersoalkan, Amir Hamzah Sebut Kapolri Tak Melawan Presiden

Rekaman itu juga menampilkan kondisi tempat tinggal sementara sang ibu yang hanya berupa terpal sederhana dengan atap rendah.

“Tidurnya di sini, sama minta terpal, dikasih uang dia nggak mau uang. Dia cuma mau mukena,” lanjut perekam video.

Dalam pengakuannya, ibu tersebut menyebut bantuan makanan yang diterimanya sudah mencukupi. Namun, perlengkapan ibadah dan kebutuhan dasar lain seperti selimut masih sangat terbatas.

“Iya mukena dengan kain sarung, selimut. Suami sakit. Lainnya nggak usah, makanan sudah ada,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa keinginannya bukanlah bantuan uang, melainkan alat ibadah agar tetap bisa menjalankan kewajiban spiritual di tengah kondisi darurat.

“Ibu nggak minta duit. Mau untuk salat, berdoa sama Allah karena saya mau salat susah,” katanya.

Pengungsi tersebut juga mengaku telah kesulitan beribadah sejak beberapa hari terakhir akibat tidak adanya mukena dan kain untuk salat.

“Saya perlu itu aja dari kemarin untuk salat, kain, selimut nggak ada. Itu aja, makanan kami udah dikirim,” sambungnya.

Baca Juga: Korban WO Ayu Puspita Tembus 207 Orang, Kerugian Capai Rp11,5 Miliar

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat dampak bencana banjir dan longsor di Sumatera masih sangat besar. Hingga Sabtu, 13 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.006 orang.

Dari total tersebut, sebanyak 414 korban meninggal berasal dari Aceh, 349 dari Sumatera Utara, dan 242 dari Sumatera Barat. Jumlah pengungsi di tiga provinsi terdampak tercatat mencapai 654 ribu jiwa, menurun dari sehari sebelumnya yang mencapai 884 ribu jiwa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X