China tak kalah agresif dengan menguji dua drone selam raksasa sepanjang 40 meter yang berbasis di Hainan. Drone tersebut dioperasikan melalui floating dock yang memungkinkan pergerakan tersembunyi.
Dengan ukuran setara kapal selam konvensional dan kemungkinan membawa senjata lebih banyak, teknologi ini masuk kategori XXLUUV atau ultra-large UUV dan menjadi bukti ambisi China mendominasi peperangan bawah laut.
Baca Juga: Krisis Keteladanan dan Krisis Motivasi
Indonesia kini berharap KSOT dapat menjadi tulang punggung pengawasan laut di wilayah-wilayah yang selama ini rawan aktivitas ilegal.
Dengan pengembangan massal yang dimulai pada 2026, pemerintah optimistis produksi kapal selam tanpa awak ini akan memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional serta menutup celah keamanan di seluruh perairan Nusantara.***
Artikel Terkait
Menhan RI Prabowo Subianto Bertemu PM Australia Anthony Albanese, Hal Urgen Ini yang Diahas Terkait Tantangan Regional dan Latihan Bersama
Kunjungan Jenderal Koopsus AS: Menhan RI Prabowo Subianto Bahas Penguatan Kerja Sama Bilateral
Pelantikannya Menuai Pro-Kontra, Deddy Corbuzier Tegas Tolak Gaji Sebagai Stafsus Menhan, Ternyata Begini Alasannya
RUU TNI Disetujui DPR, Menhan Tegaskan ke Depan Perjelas Batasan Prajurit Aktif di Jabatan Sipil
Sri Mulyani dan Menhan Kunjungi Zona Merah Nduga, Kenakan Rompi Antipeluru
Seskab Teddy Dampingi Prabowo Bertemu Putin, Kenang Momen saat Prabowo Masih Menhan dan Presiden Terpilih