Krisis Keteladanan dan Krisis Motivasi

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Kamis, 13 November 2025 | 19:52 WIB
Samuel - Dosen AKUB - San Agustin  (S.E., M.M)
Samuel - Dosen AKUB - San Agustin (S.E., M.M)

Dalam buku The Practice of Ethical Leadership karya Claas Florian Engelke & Richard B. Swegan (2024) menegaskan bahwa kepemimpinan etis bukan hanya “hiasan moral” melainkan fondasi untuk menentukan kesehatan jangka panjang organisasi. Ketika budaya integritas tumbuh, tingkat kolaborasi meningkat dan resistensi terhadap perubahan menurun.

Kembali ke Makna

Narasi yang saya mulai dari atas sampai dibagian ini adalah tentang krisis keteladanan yang berimbas langsung pada motivasi. Dalam organisasi dapat dikatakan sehat adalah motivasi karyawan yang bersumber dari dua hal, yakni makna dan keadilan. Mereka bekerja bukan semata-mata karena gaji, tetapi karena merasa bahwa pekerjaannya berarti dan pemimpinnya dapat dipercaya.

Namun begitu keteladanan runtuh, motivasi pun bergeser dari intrinsik ke ekstrinsik. Karyawan bekerja hanya untuk insentif, bukan karena cinta terhadap pekerjaan. Mereka patuh karena takut, bukan karena hormat maka akibatnya berdampak pada kreativitas menurun, inovasi berhenti, dan semangat kolektif meng-uap.

Dalam buku Robert M. McManus di edisi kedua Ethical Leadership: A Primer (2023) menunjukkan secara jelas bahwa organisasi dengan budaya keteladanan yang kuat memiliki tingkat retensi pegawai lebih tinggi dan kepuasan kerja yang stabil, dalam pengertian ini bahwa karyawan merasa dihargai, bukan justru dimanipulasi.

Bagi organisasi di Indonesia—termasuk di Kalimantan Barat—pelajaran ini mungkin saja dekat dan relevan bagi kita. Banyak lembaga publik maupun swasta masih menjalankan manajemen motivasi berbasis hukuman dan imbalan, tanpa menyentuh aspek nilai. Padahal, generasi muda pekerja sekarang mencari makna dan keadilan, bukan sekadar gaji.

Krisis keteladanan juga berdampak langsung pada kinerja ekonomi organisasi. Ketika budaya integritas melemah, reputasi pun jatuh. Investor, pelanggan, dan mitra bisnis kini semakin sensitif terhadap isu etika. Perusahaan yang tercatat melakukan pelanggaran moral atau korupsi akan kesulitan memperoleh kepercayaan pasar.

Data dari Ethical Leadership Index 2024 menunjukkan, perusahaan dengan tingkat integritas tinggi mengalami pertumbuhan laba 15% lebih stabil dibanding pesaingnya yang kerap terlibat skandal etika. Artinya, kejujuran kini punya nilai ekonomi yang konkret.

Dalam konteks lokal, organisasi yang mempraktikkan transparansi dan keteladanan justru lebih dipercaya masyarakat. Di Kalimantan Barat, misalnya, banyak koperasi, lembaga keagamaan, dan badan usaha kecil tumbuh karena didirikan oleh figur-figur yang dikenal jujur dan sederhana. Ketika kepercayaan tumbuh, modal sosial berubah menjadi modal ekonomi.

Langkah Menghadapi Krisis Keteladanan

Untuk keluar dari krisis keteladanan, organisasi perlu menata ulang sistemnya secara menyeluruh. Saya juga mengutib dari berbagai sumber buku terkait beberapa langkah yang dapat diterapkan.

  1. Audit Etika dan Integritas.
    Evaluasi konsistensi antara nilai yang diucapkan dan praktik yang dijalankan. Adakah ruang untuk kritik terhadap pimpinan? Apakah pelanggaran kecil ditoleransi?
  2. Bangun Sistem Penghargaan Berbasis Nilai.
    Jangan hanya memberi penghargaan bagi pencapaian finansial. Pegawai yang menunjukkan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab harus mendapat apresiasi terbuka.
  3. Kembangkan Pelatihan Kepemimpinan Etis.
    Banyak pemimpin tumbuh dalam sistem yang hanya menilai hasil. Diperlukan pelatihan yang menekankan keberanian moral, akuntabilitas, dan komunikasi jujur.
  4. Dorong Partisipasi dan Dialog.
    Motivasi tumbuh saat pegawai merasa didengar. Forum terbuka antara pimpinan dan bawahan menciptakan rasa memiliki dan mengurangi jarak psikologis dalam organisasi.
  5. Lindungi Pelapor Pelanggaran (Whistleblower).
    Organisasi yang berani mendengar kritik menunjukkan kedewasaan budaya. Perlindungan bagi pelapor bukan hanya aspek hukum, tetapi simbol keteladanan struktural.

Krisis keteladanan, sejatinya merupakan krisis tentang keberanian. Dalam batasan ini yakni keberanian untuk hidup sesuai nilai, meski sulit.

Dalam dunia kerja modern yang kompetitif, kejujuran sering dipandang lambat, sementara manipulasi tampak efektif. Namun sejarah organisasi membuktikan, hanya lembaga yang setia pada integritas yang mampu bertahan panjang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Sumber: Samuel, S.E., M.M.

Tags

Rekomendasi

Terkini

X