Dalam kenyataan, pengaruh robotisasi AI mengandung dampak positif dan negatif pada industri pengelasan di Finlandia.
Perubahan-perubahan akibat AI yang memengaruhi produksi industri seharusnya didekati dengan kurikulum pelatihan teknologi, pendidikan yang baru, dan kesadaran sosial untuk mengurangi dampak negatif atau kerugian yang harus ditanggung oleh pihak masyarakat.
Pengaruh sosial penerapan AI ini telah menjadi tantangan bagi kemanusiaan. Sampai pada batas apa robot-robot boleh menggantikan peran manusia dalam hidup sehari-hari?
Pada waktu yang sama, pengaruh sosial penerapan AI ini telah menjadi tantangan bagi kemanusiaan. Sampai pada batas apa robot-robot boleh menggantikan peran manusia dalam hidup sehari-hari? Sejak satu dekade yang lampau (2010), Kaplan dan Haenlein (2019) telah menyerukan supaya para penguasa dunia bersatu padu menghadapi peluang-peluang dan tantangan AI.
Dalam semangat persaudaraan, bagaimanakah dunia sebaiknya menghadapi robot-robot yang tidak selalu berdampak positif, pengaruh Artificial Superintelligence, dan perang dingin teknologi? Kebijakan dan aturan yang menjunjung kedamaian antara kemanusiaan dan AI menjadi suatu kebutuhan mendesak.
Apakah AI itu dapat diibaratkan dengan serigala berbulu domba? Menurut Future of Humanity Institute di Universitas Oxford, yang khusus mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat mengancam kemanusiaan, mungkin saja AI ibarat serigala berbulu domba.
Sampai sekarang, kecil kemungkinan bahwa risiko-risiko yang umumnya ditakuti manusia, seperti benturan meteor, pandemi, dan perang nuklir, akan memusnahkan manusia. Jika AI berubah menjadi buruk dan sangat buruk, maka risiko tersebut dapat menjadi kepunahan total dengan 0 persen kelangsungan hidup.
Perkembangan hidup manusia dapat berubah dalam tempo singkat. Pada 1933, misalnya, fisikawan Ernest Rutherford pernah bertutur bahwa energi nuklir adalah omong kosong. Namun, hanya dalam kurun 24 jam, reaksi berantai nuklir ditemukan oleh Leo Szilard. Sekitar 78 tahun kemudian baru terjadi ledakan reaktor Fukushima di Jepang (2011).
Bagaimanakah kalau AI salah dalam beroperasi sehingga menimbulkan dampak fatal bagi hidup dan keselamatan lingkungan hidup dan semua makhluk ciptaan, termasuk manusia? Analisis ini menunjukkan adanya dilema utama yang harus dihadapi AI dengan domain-domain utama, di mana kebaikan dan kejahatan sering kali berjalan bersama.
Cepat atau lambat perkembangan AI akan mentransformasi hampir semua aspek hidup manusia dan menimbulkan tantangan kemanusiaan di masa depan.
Kebijaksanaan lokal
Peran dan keterlibatan AI dalam kegiatan sehari-hari tak tersangkalkan. Mereka yang berada di daerah-daerah pinggiran dan terpencil pun sudah merasakan pengaruh AI. Pola, gaya hidup, dan kerja masyarakat terus berubah.
Hanya, sampai sekarang ilmu pengetahuan manusia masih terbatas tentang bagaimanakah masyarakat menimbang perilaku moral AI, secara khusus ketika menghadapi dilema moral yang bisa saja melibatkan konflik moral.
Dalam keadaan dilematis, AI cenderung menjatuhkan pilihan utilitarian daripada yang dikehendaki manusia. Masalah etis segera muncul ketika robot-robot yang diisi dengan kecerdasan buatan harus berhadapan dengan pilihan-pilihan riil, seperti keselamatan siapa yang didahulukan, kesejahteraan individual atau umum, dan kepentingan bersama.
Dalam keadaan dilematis, AI cenderung menjatuhkan pilihan utilitarian daripada yang dikehendaki manusia.
Etika AI, yang dicetuskan dalam dokumen ”Panggilan Roma untuk Etika AI” (28/2/2020) dalam kerja sama dengan Microsoft, IBM, dan FAO ini, terasa kian mendesak terutama dalam pemetaan teknologi berbasis AI, yang dapat meningkatkan efektivitas personel militer dalam ajang pertempuran. Apakah semua robot yang digunakan selama perang antara Rusia dan Ukraina sungguh memperhatikan dan menjunjung nilai kemanusiaan?
Ketentuan etika apakah yang harus diikuti oleh setiap personel militer yang menggunakan alat-alat perang berbasis AI di medan perang? Dalam konteks ini aturan dan rekomendasi etis tentang penggunaan sarana AI sangat penting.