"Selain itu, kami akan memeriksa sumber air yang masuk dan memasang pompa sementara untuk mengurangi genangan,” jelas Hari.
Baca Juga: Penerapan GCG Terbaik, BRI Diganjar Dua Penghargaan di IICD 2024
Sementara itu, Kepala Desa Pancaroba, Marulian, mengungkapkan bahwa banjir tahun ini telah terjadi lima kali, dengan wilayahnya menjadi salah satu yang paling parah terdampak.
Disebutkan Kades, ketinggian air di rumahnya saja mencapai 30 cm.
"Kami berharap pemerintah dan DPR segera merealisasikan solusi agar masyarakat bisa kembali beraktivitas,” harap Marulian.
Penanganan banjir di Sungai Ambawang kini menjadi prioritas, mengingat dampaknya terhadap infrastruktur dan aktivitas masyarakat di Kalimantan Barat. Langkah-langkah cepat diharapkan segera mengatasi permasalahan tersebut.
Tokoh Pemuda Herkulanus Agus SH CLA Tawarkan Solusi
Sementara itu praktisi hukum sekaligus pengamat kebijakan publik, Herkulanus Agus SH CLA, asal Sungai Ambawang, Kubu Raya, menyoroti kondisi banjir yang terus melanda Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Ia juga memberikan tanggapan atas kunjungan lapangan Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, ke wilayah terdampak banjir pada Jumat, 6 Desember 2024.
Menurut Agus, banjir di Sungai Ambawang bukan sekadar fenomena musiman, tetapi telah menjadi persoalan struktural yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Penyempitan alur sungai hingga 70 persen dan minimnya upaya pencegahan menjadi faktor utama.
"Saya mengapresiasi kunjungan Ketua Komisi V DPR RI dan komitmennya untuk mencari solusi. Namun, langkah ini harus segera diikuti dengan tindakan nyata, terutama untuk normalisasi sungai secara menyeluruh," ujar Agus yang ikut mendampingi kunjungan Lasarus ke lokasi.
Agus menyoroti dampak luas banjir ini, terutama terhadap infrastruktur dan aktivitas ekonomi.
Jalan nasional Trans Kalimantan yang terendam menjadi bukti nyata bahwa banjir di Sungai Ambawang tidak hanya merugikan warga setempat, tetapi juga menghambat mobilitas regional.