kalbar-kita

AlPeKaJe Dorong Inklusifitas: Beri Tempat bagi Kelompok Rentan di Masyarakat

Jumat, 8 Maret 2024 | 05:00 WIB
Pengurus AlPeKaJe searah jarum jam: Norberta Yati Lantok (Ketua AlPeKaJe), Herkulana Ersinta (Sekretaris AlPeKaJe), Reny Hidjazi (Bendahara AlPeKaJe), Mastuati Saha, Pengurus (AlPeKaJe - Kalteng), Laili Khairnur (Wakil Ketua AlPeKaJe), Martha Kavung (anggota Pengurus AlPeKaJe Kaltim), dan Julia Kam (Dok. Pontianak Globe)

Sekretaris AlPeKaJe, Herculana Ersinta, menyatakan keprihatinannya terhadap kasus kekerasan yang terus muncul dan sering kali tidak mendapatkan penyelesaian yang tepat.

"Kami sangat prihatin dengan situasi ini, karena kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak masih belum merasa aman dan tidak mendapatkan keadilan saat menjadi korban," tegasnya.

Di Kalimantan Barat, kasus kekerasan seksual dan kekerasan terhadap anak-anak sering menjadi sorotan.

Baca Juga: Inspiratif…Cerita Perempuan Banyuwangi Jadi AgenBRILink dengan Omset Ciamik

AlPeKaJe menyoroti perlunya penegakan hukum yang tegas dan pemahaman yang mendalam terhadap masalah ini.

Beberapa laporan tentang "Kekerasan Berbasis Gender, Potret Gelap Indonesia" menunjukkan bahwa banyak kasus kekerasan seksual diselesaikan di luar peradilan. Pembebasan biaya dan upaya "perdamaian" sering dilakukan oleh aparat hukum dengan alasan keadilan restoratif.

Meskipun Indonesia memiliki sejumlah undang-undang untuk melindungi perempuan dari kekerasan, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan.

UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang baru diundangkan belum mampu menangani kasus-kasus kekerasan seksual secara efektif.

Organisasi perempuan harus memprioritaskan sosialisasi tentang undang-undang perlindungan perempuan sebagai bagian dari program mereka.

"Dengan demikian, lebih banyak kelompok rentan, terutama perempuan dan anak-anak, akan memiliki pengetahuan tentang cara mendapatkan perlindungan," kata Herkulana Ersinta.

Pengawas AlPeKaJe Kalimantan Tengah, Mastuati Saha, menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi perempuan untuk meningkatkan kesadaran mereka akan hak-hak mereka dan meningkatkan kemandirian mereka dalam menghadapi kekerasan.

Baca Juga: Tangis Haru Para Narapidana saat Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Rayakan Natal Bersama di Lapas Perempuan

AlPeKaJe juga menyuarakan keprihatinan terhadap dampak lingkungan yang mungkin terjadi akibat pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur.

Pembangunan ini berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan dan peminggiran kelompok rentan.

Norberta Yati menyoroti dampak langsung perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, yang secara khusus dirasakan oleh perempuan.

Halaman:

Tags

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB