investify

IFG Gandeng FSDC Hong Kong Perkuat Tata Kelola Investasi

Kamis, 19 Februari 2026 | 06:28 WIB
Indonesia Financial Group (IFG) menyelenggarakan sharing session bertema “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets”. (Dok. IFG )

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA --  Indonesia Financial Group menggandeng Financial Services Development Council dalam kegiatan sharing session bertajuk “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets” guna memperkuat tata kelola investasi melalui penerapan Asset Liability Management (ALM).

Kegiatan ini menghadirkan Executive Director Financial Services Development Council, Rocky Tung, dan diikuti jajaran IFG serta anggota holding. Forum tersebut menempatkan ALM sebagai fondasi utama industri asuransi dan dana pensiun.

Baca Juga: Kontroversi Wakaf di Tanah Suci, Randy Pernama Minta Transparansi 3.000 Mushaf

Melalui pendekatan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action), ALM mencakup pengumpulan data, analisis, pelaporan, hingga penyusunan strategi pengelolaan aset dan kewajiban. Penerapan ini bertujuan meminimalkan risiko, memperkuat tata kelola investasi, serta memastikan perlindungan dana nasabah.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menegaskan bahwa tantangan industri asuransi dan dana pensiun di Indonesia kerap dihilangkan pada praktik pengelolaan aset dan liabilitas yang kurang bijaksana. Kondisi tersebut berpotensi memicu ketidaksesuaian antara kewajiban dan ketersediaan aset.

“Prioritas utama perusahaan yang bergerak di asuransi dan dana pensiun adalah memastikan dana nasabah pemegang polis harus aman. Pengelolaan aset dan liabilitas yang disiplin menjadi kunci menjaga tingkat kesehatan perusahaan serta keinginan industri,” ujar Denny.

Ia menambahkan, praktik ALM yang tidak prudent dapat berdampak pada defisit tingkat kesehatan perusahaan. Oleh karena itu, penerapan Liability Driven Investment (LDI) yang dinilai krusial untuk menyelaraskan strategi investasi dengan profil liabilitas dan kerangka risk appetite yang telah ditetapkan.

Framework LDI umumnya mencakup tiga komponen utama, yaitu Liability Profile Analysis, Liability Hedge Portfolio, serta Return Seeking Portfolio. Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan risiko secara terukur sekaligus mengoptimalkan imbal hasil sesuai rencana bisnis.

Dalam paparannya, Rocky Tung menekankan bahwa pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif merupakan prasyarat stabilitas keuangan.

“Pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan stabilitas keuangan suatu entitas. Kerangka ALM yang komprehensif dalam industri asuransi menitikberatkan pada stabilitas dan profitabilitas jangka panjang dengan menjaga likuiditas, mengelola kualitas kredit, serta ketersediaan modal operasional yang memadai,” jelas Rocky.

Baca Juga: Resmi! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026

Ia menambahkan bahwa ALM berperan dalam memastikan solvabilitas perusahaan, memitigasi risiko suku bunga, likuiditas, dan pasar, serta mengoptimalkan imbal hasil berbasis risiko melalui diversifikasi dan penyesuaian durasi aset-liabilitas.

“Melalui ALM, perusahaan dapat memastikan kemampuan memenuhi kewajiban, mengelola risiko suku bunga pergerakan akibat nilai aset dan kewajiban yang berbeda, mengantisipasi risiko likuiditas ketika aset likuid tidak mencukupi, serta memitigasi risiko pasar akibat ekuitas, kredit, maupun nilai tukar. Selain itu, stabilitas keuangan dijaga dengan menyelaraskan arus kas masuk dari aset dengan proyeksi arus keluar klaim dan kewajiban,” tambahnya.

Melalui forum ini, IFG mendorong peningkatan pemahaman mengenai prinsip dan praktik ALM di sektor asuransi guna memperkuat stabilitas keuangan dan perlindungan berkelanjutan bagi pemegang polis serta peserta dana pensiun.***

Tags

Terkini