Tidak Ada Resesi Seks, Pertumbuhan Penduduk Indonesia Terjaga Seimbang

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 26 Januari 2023 | 08:00 WIB
Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo SpOG (K)
Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo SpOG (K)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut angka Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata perempuan Indonesia melahirkan anak berada pada rasio 2,1.

Hal tersebut menunjukkkan pertumbuhan penduduk Indonesia terjaga dan tidak ada resesi seks seperti yang dialami di berbagai negara.

BACA JUGA: Perayaan Imlek Nasional 2023, Bersyukur, Bangkit dan Maju Bersama. Catat Tanggal Perayaannya di Jakarta

“Dan saya senang, angka yang disampaikan Dokter Hasto (Kepala BKKBN), pertumbuhan (penduduk) kita di angka 2,1 dan yang menikah 2 juta, yang hamil 4,8 juta (per tahun). Artinya di Indonesia tidak ada resesi seks,” kata Presiden Joko Widodo saat membuka dan memberi arahan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) membahas strategi pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana serta program percepatan penurunan stunting tahun 2023 di auditorium kantor BKKBN Pusat di Jakarta, Rabu 25 Januari 2023.

Menurut Presiden Joko Widodo, tujuan dari pembangunan penduduk yang hendak dicapai adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

BACA JUGA: Kelompok Usaha Serdang Bedagai Sulap Anyaman Pandan Jadi Produk Ekspor. Usaha Makin Maju Setelah Dapat KUR BRI

“Masih tumbuh 2,1 ini bagus. Dan ingat ya, namanya jumlah penduduk sekarang ini menjadi sebuah kekuatan ekonomi bagi sebuah negara. Tetapi yang paling penting adalah kualitas (penduduk),” kata Presiden Joko Widodo.

Rakernas 2023 bertemakan Peningkatan Sinergitas dan Kolaborasi Pencapaian Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting itu bertujuan untuk meningkatkan sinergitas dan kolaborasi para pemangku kepentingan di pemerintahan pusat, pemerintah provinsi, pemerintahan kabupaten dan kota, serta para mitra dalam mencapai sasaran program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting.

BACA JUGA: Tarif Baru BPJS Kesehatan 2023 Berapa Ya ? Sobat Globe, Cek Iuran BPJS Kesehatan 2023 Yuk

Dalam Rakernas ini juga diumumkan hasil survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022.

Prevalensi stunting di Indonesia pada 2022 berada pada angka 21,6 persen. Prevalensi ini turun sebesar 2,8 persen dibandingkan prevalensi 2021 yang berada pada angka 24,4 persen.

Dalam laporannya, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan BKKBN memiliki tugas untuk menjaga pertumbuhan penduduk seimbang serta meningkatkan kualitas keluarga.

Istilah Total Fertility Rate menurut Hasto memiliki arti bahwa perempuan itu harus melahirkan anak berapa sehingga ketika total TFR ditarget 2,1 dalam rangka untuk pertumbuhan penduduk seimbang ini adalah target dalam 2024.

Dari hasil Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21) dan dimutakhirkan pada 2022 oleh BKKBN dan juga survei menunjukkan bahwa saat ini angka TFR sudah mendekati 2,1.

“Angka 2,1 berarti bahwa perempuan-perempuan hanya praktis melahirkan satu anak perempuan rata-rata sehingga pas sekali bahwa satu perempuan meninggal digantikan 1 perempuan yang lahir. Sehingga nanti akan berkesinambungan dan sustainability-nya tetap terjaga. Tetapi penduduk masih tambah karena kematiannya lebih rendah daripada kelahiran,” kata Hasto Wardoyo.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: BKKBN

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X