“Kisah injil yang kita dengar hari ini ditempatkan Lukas persis sebelum Yesus memulai perjalanannya ke Yerusalem untuk memanggul salibNya hingga mengorbankan hidupnya sendiri di kayu salib mati bagi banyak orang,” tandas Padre Marco.
Di sini, urai Padre Marco, Lukas mau mengatakan bahwa salib adalah bagian tak terpisahkan dari panggilan hidup seorang membiara. Tetapi Yesus setia memanggul salib Nya seturut kehendak Bapa dan bagi keselamatan umat manusia.
“Inilah yang menjadi kekuatan kita. Kesetiaan dan ketabahan Yesus membuatNya merasa bebas luar dalam. Dan kebebasan sejati inilah yang memampukan Dia untuk mencintai tanpa batas,” tutur Padre Marco.
Belajar dari Bunda Maria
Lebih jauh Padre Marco menjelaskan, keempat suster asal Indonesia tersebut mengatakan “ya” untuk bergabung secara penuh dan kekal dengan kongregasi Congregazione delle suore di carità del Buon e Perpetuo Soccorso dalam kaul-kaul kebiaraan: kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian. Mereka mengumandangkan sebuah janji dan sumpah melalui sebuah kata singkat tapi penuh makna….”ya”. atau dalam versi Bunda Maria: aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu.
Menurut Padre Marco, kata “ya” dari Bunda Maria sekaligus kata kunci yang menutup berbagai ruang yang bisa mengganggu gugat Bunda Maria untuk bisa merasa jauh dari Tuhan dan sesama manusia.
Bunda Mara sebaliknya tetap setia dan fokus pada komitmennya terhadap Tuhan dan sesama. Ia memberikan segala sesuatu yang dia miliki hingga kekuatan paling akhir ketika harus berdiri menyaksikan putranya yang meninggal.
Dan fakta apa yang ada di depan dia adalah kehendak Tuhan, itu sudah cukup baginya untuk menyanggupi segala tugas dan tanggung jawab.
“Di sini iman dan cinta benar-beranr murni dan sempurna dan terungkap melalui pengabdian yang penuh, Tuhan datang untuk mengubah. Dan Dia mengubah menyanggupkan manusia dengan sempurna secara intgral secara penuh luar dan dalam, sebagaimana Dia juga mencintai orang secara penuh secara sangat pribadi,” ucapnya.
Menutup kotbahnya kepada suster yang mengatakan kaul hari itu, Padre Marco mengatakan bahwa keluarga, kongregasi, dan semua yang hadir mendukung penuh para suster yang menutuskan untuk hidup bakti secara kekal dan penuh.
“Semua berdoa bersamamu, Semoga Tuhan yang adalah awal dan akhir pangglan hidupmu, alfa dan omega, dahulu dan sekarang dan selama-lamnya,” katanya.
Padre Marco menambahlan, “Yang telah memaniggilmu masing-masing sejak dalam kandungan ibu seperti dikisahkan dalam bacaan pertama yang datang dari tempat yang jauh, datang ke tempat yang luas semoga Dia menyambutnya dalam ikrar dan janjimu pada hari ini merangkulmu erat-erat dan menyertaimu selalu kapan dan kemana saja kalian berempat diutus demi kemuliaan Tuhan dan demi kesejahteraan umat manusia yang kalian layaui.”
Artikel Terkait
Buku Mutiara Kata-Hati Mgr Agustinus Agus Diluncurkan: Sang Komunikator Ulung dari Kampung
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Diangkat Jadi Saudara Kehormatan di Gawai Raa Lamba Lalo Suku Dayak Taman
Nama Yayasan Amkur di Sambas, Diusulkan Anak Karyawan di Hadapan Uskup Mgr Herkulanus van Den Berg OFM Cap
3 Anggota Ordo Kapusin Pontianak Ditahbiskan Diakon, Begini Pesan Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus