inter-nasional

Polisi Bongkar Modus Fake BTS, Hacker Malaysia Kirim 15 Ribu SMS Phishing di Jakarta

Rabu, 25 Juni 2025 | 14:38 WIB
Polda Metro Jaya mengungkap kasus penipuan dengan modus fake BTS. (Instagram @poldametrojaya)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Polda Metro Jaya mengungkap kasus kejahatan siber lintas negara yang memanfaatkan perangkat fake base transceiver station (Fake BTS) untuk membobol rekening bank milik masyarakat.

Dua warga negara Malaysia, OKH (53) dan CY (29), ditangkap setelah terbukti melakukan SMS blasting bermuatan phishing yang mencatut nama sejumlah bank besar di Indonesia.

Baca Juga: Usai Dimas Anggara Minta Maaf ke Kiesha Alvaro, Pasha Ungu: Insya Allah Semua Ada Hikmahnya

“Modusnya berupa SMS palsu yang mengatasnamakan beberapa bank swasta,” ujar Kepala Sub Bidang Penmas Bid Humas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, Rabu, 25 Juni 2025.

Penyelidikan juga mengungkap keberadaan buronan asal Malaysia berinisial LW (35), yang diduga mengendalikan seluruh operasi dari luar negeri.

LW memerintahkan OKH dan CY untuk menyebarkan lebih dari 15 ribu SMS phishing kepada target di wilayah Jakarta.

Baca Juga: Mediapreneur Talks Promedia 2025 Siap Digelar di Banten, Sasar Jurnalis hingga Pengusaha Media

Pesan-pesan tersebut dikemas menyerupai notifikasi resmi dari bank, seperti informasi kedaluwarsa poin reward atau permintaan verifikasi akun.

Setelah diklik, tautan dalam SMS akan mengarahkan korban ke situs palsu yang mencuri data penting seperti user ID, PIN, dan kode OTP, sebelum menguras saldo rekening.

“Sudah ada empat laporan polisi dengan total kerugian mencapai Rp200 juta,” kata Kepala Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon.

Baca Juga: Pasca Serangan AS ke Iran, Prabowo Siapkan Evakuasi WNI dari Kawasan Konflik

Salah satu korban, AEF, kehilangan hingga Rp100 juta usai mengeklik tautan yang mengatasnamakan Bank BCA.

Dari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti seperti antena pemancar, empat ponsel, receiver Novotel, kartu SIM Indonesia, dan aplikasi Super Silver APK LGT.

Semua perangkat dipasang di dalam mobil, yang digunakan pelaku untuk berkeliling ke kawasan padat penduduk.

“Pelaku menggunakan teknik travelling, menyasar area ramai agar sinyal jebakan menjangkau lebih banyak ponsel. Ini yang membuatnya sulit terdeteksi,” jelas Herman.

Halaman:

Tags

Terkini