PONTIANAKGLOBE.COM, WASHINGTON -- Konflik antara Iran dan Israel terus menjadi sorotan dunia internasional.
Pada Kamis, 19 Juni 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin turut buka suara dan menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan ketegangan kedua negara.
Baca Juga: Laporkan Menkop Budi Arie soal Fitnah Judi Online, Kader PDIP Diperiksa 29 Pertanyaan di Bareskrim
Putin menilai serangan udara Israel terhadap Iran justru memperkuat konsolidasi rakyat Iran dengan para pemimpinnya.
"Hari ini kita melihat adanya konsolidasi antara masyarakat Iran dan pimpinan politiknya," ujar Putin, dikutip dari Reuters.
Meski menyebut isu ini sangat sensitif, Putin menyatakan yakin bahwa solusi damai masih bisa dicapai.
Ia menekankan pentingnya perjanjian yang bisa menjamin keamanan Israel sekaligus menghormati hak Iran mengembangkan program nuklir untuk kepentingan sipil.
Baca Juga: Suap Hakim Rp4 Miliar Terbongkar demi Bebaskan Ronald Tannur, Pengacaranya Divonis 11 Tahun
“Saya percaya kita harus mencari cara menghentikan konflik ini dan mendorong kesepakatan antara Israel dan Iran,” tegas Putin.
Putin juga mengungkap ada sekitar 200 warga Rusia yang bekerja di reaktor nuklir Bushehr, Iran bagian selatan.
Fasilitas tersebut dibangun oleh perusahaan Rusia, Rosatom.
“Kami telah sepakat dengan pemimpin Israel bahwa keamanan mereka harus tetap terjamin,” ujarnya.
Namun, tawaran mediasi dari Putin langsung ditolak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ia mengaku telah berbicara langsung dengan Putin soal itu.