Setelah memenangkan pemilu yang dianggap tidak adil pada tahun 1994, Rahmon mencapai gencatan senjata dengan pemberontak Islam dan menandatangani perjanjian damai dengan kelompok United Tajik Opposition (UTO) pada tahun 1997.
Meski memberikan amnesti kepada oposisi, Rahmon mengendalikan gerakan oposisi dengan ketat.
Baca Juga: Pemadanan NIK dan NPWP Wajib Dilakukan Sebelum 30 Juni 2024, Hindari Denda! Begini Caranya
Pendekatan Terhadap Islam
Sejak awal, Rahmon membawa nilai-nilai komunisme Soviet dalam pemerintahannya, meskipun ia menginginkan Tajikistan menjadi negara sekuler.
Rahmon melihat Islam sebagai ancaman potensial terhadap kepemimpinannya, terutama setelah perang sipil melawan UTO.
Namun, ia juga menggunakan Islam untuk diplomasi dengan negara-negara Muslim dan Arab, bahkan memeluk Islam sebelum kunjungannya ke Arab Saudi pada tahun 1993, yang membuahkan bantuan finansial dari negara-negara Arab.
Meskipun begitu, Rahmon tetap membatasi pengaruh agama di negaranya.
Baca Juga: Ngobrol Bareng KomHAK KAP Chapter 1: Membangun Pemimpin Muda Katolik di Tengah Keberagaman
Laporan Kementerian Luar Negeri AS tentang Kebebasan Beragama pada tahun 1997 mencatat bahwa Rahmon mengkampanyekan Islam sebagai ancaman bagi pemerintah dan masyarakat.
Tajikistan juga mengontrol ketat praktik keagamaan lainnya seperti Kristen dan Yahudi.
Kehidupan Awal dan Karir Politik
Lahir pada tahun 1952 di Kulob Oblast, Uni Soviet, Rahmon berasal dari keluarga tentara.
Ayahnya adalah veteran tentara Soviet yang ikut berperang dalam Perang Dunia II.
Rahmon muda pernah bertugas di kapal induk Soviet di Pasifik dan bekerja sebagai teknisi listrik setelah menyelesaikan dinas militernya.